Sejarah Batu Qur’an Banten – Awal Mula (Terlengkap)

3 min read

Batu Qur'an Banten

Batu Qur’an Banten – Menurut catatan sejarah, kemunculan pertama batu Alquran di kaki Gunung Karang, tepatnya di Desa Kadubumbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, terkait dengan Syekh Maulana Mansyur, seorang ulama terkenal dari Banten abad ke-15.

Disebutkan bahwa tempat di atas batu Alquran tersebut sebelumnya dianggap sebagai telapak kaki Syekh Maulana Mansyur saat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.

Dengan melafalkan Basmalah, dia sampai di tanah suci Mekkah. Ketika Syekh Maulana Mansyur kembali dari Mekah, dia terlihat dengan air dari tanah yang tidak berhenti mengalir.

Banyak orang percaya bahwa air yang mengalir melalui Zam Zam adalah air. Syekh Maulana Mansyur kemudian berdoa kepada Allah dengan berdoa dua rakaat di dekat air.

Usai salat, Syekh Maulana Mansyur diperintahkan untuk menutupi air dengan Alquran. Dengan izin Allah, air berhenti dan Alquran berubah menjadi batu dan disebut batu Alquran. Syekh Maulana Mansyur dikenal sebagian warga Banten sebagai ulama pemberani, cerdas dan mahir memainkan alat-alat seni islami.

Pada masa Sultan Hasanudin, Syekh Maulana Mansyur atau yang juga dikenal dengan Ki Mansyur adalah seorang yang ahli di bidang pertanian dan komunikasi. Karenanya ia diberi tugas untuk melindungi wilayah Islam Banten Selatan yang berpusat di Cikaduen.

Sejarah Batu Quran

Islam adalah agama mayoritas di Indonesia. Dengan pemikiran tersebut, maka tidak mengherankan jika banyak peninggalan sejarah Islam di Indonesia hingga saat ini.

Warisan tersebut masih dilestarikan oleh masyarakat. Baik dalam bentuk budaya maupun dalam bentuk fisik. Salah satunya sangat erat kaitannya dengan kisah Alquran di Banten.

Sejarah Batu Quran Pandeglang Banten

Batu Alquran ini dikenal sebagai rumah pemandian yang sering saya kunjungi saat ini dengan daya tarik tersendiri. Tempat ini merupakan salah satu tempat wisata di Banten yang paling banyak dikunjungi.

Menurut cerita yang ada, kamar mandi ini pertama kali muncul di kaki Gunung Karang. Alquran ada di Kabupaten Pandeglang, Banten. Itu juga muncul beberapa abad yang lalu.

Batu-Quran-Bantenn

Tentunya ketika Anda menemukan keberadaan situs-situs bersejarah tersebut, sebagai Muslim tentunya Anda bertanya-tanya seperti apa ceritanya.

Sekitar 1651 M, Sultan Agung Abdul Fatah meninggalkan Kesultanan Banten dan pemerintahan diserahkan kepada putranya Sultan Maulana Mansyurudin. Ia diangkat menjadi Sultan Banten ke-7. Ia menjabat sebagai Sultan Banten selama sekitar dua tahun dan melakukan perjalanan ke Baghdad di Irak.

Untuk berdirinya negara Banten di tanah Irak, kesultanan untuk sementara diserahkan kepada putra Pangeran Adipati Ishaq atau Sultan Abdul Fadhli. Dalam perjalanannya ke Baghdad di Irak, Sultan Maulana Mansyuruddin menerima surat wasiat ayahnya.

Sejarah Batu Qur’an Versi Pertama

Pada versi pertama diketahui bahwa batu Alquran ini pertama kali terlihat sehubungan dengan kisah salah seorang ulama Banten yang terkenal pada abad ke-15 Masehi. Dia tidak lain adalah Syekh Maulana Mansyur.

Dalam versi ini, diyakini pula bahwa batu Alquran tampaknya merupakan tempat di mana Syekh Maulana Mansyur berdiri ketika pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Menurut cerita, dia pergi ke Mekah saat ini dan langkahnya dimulai dari tempat itu dengan membaca “Basmalah” sebagai gantinya.

Kemudian Syekh Maulana Mansyur mencapai Mekah tanpa melalui jalur darat atau air. Karena dia pergi jauh dari sana lalu kembali, dia juga terlihat dari sana dengan air yang tidak berhenti mengalir.

Menurut warga sekitar, air yang tidak berhenti mengalir tersebut diyakini sebagai air Zam-Zam. Karena Syekh Maulana Mansyur melihat arus yang tidak akan berhenti, dia juga ingin berhenti.

Dan untuk memulai bisnisnya di air, dia bergabung dengan Tuhan. Ini dilakukan dengan shalat dua rakaat mengelilingi air yang mengalir.

Ketika dia selesai dengan munajat, dia mengikuti instruksi agar Syekh Maulana Mansyur menutupi air dengan Alquran. Akhirnya dengan izin Tuhan, air berhenti dan berubah menjadi batu.

Karena itu disebut batu Alquran, yang airnya belum mengering. Dan ada cerita Batu Qur’an Banten versi pertama.

Sejarah Batu Qur’an Versi Kedua

Selain cerita sejarah Batu Qur’an yang berkaitan dengan Syekh Maulana Mansyur, ternyata ada juga yang meyakini bahwa kisah Batu Qur’an ada hubungannya dengan salah seorang ulama auliyaillah bernama Syekh Mansyuruddin.

Di bidang sosial, Syekh Mansyuruddin merupakan salah satu penyebar agama Islam di Banten. Selain ahli agama, ia dikenal karena kesaktiannya.

Syekh Mansyuruddin sendiri hidup sekitar abad ke-17 Masehi. Pada saat turun-temurun ia merupakan putra dari Sultan Agung Tirtayasa.

Pada masa mukjizat Syekh Mansyaruddin sendiri, hal itu terkenal hingga saat ini. Ia dikenal sebagai ulama yang bisa berteman dengan jin dan menaklukkan harimau. Bahkan untuk keturunannya.

Batu Quran Pandeglang

Jadi jika kita kembali ke kisah sejarah Alquran Batu di Banten pada versi kedua, diasumsikan bahwa Syekh Mansyuruddin ada di Mekkah saat itu.

Dalam perjalanan kembali ke nusantara, ia memasuki mata air Zam-Zam. Kemudian ia muncul di sebuah mata air di Banten, tepat di sekitar kabupaten Cibulakan. Saat dia keluar, air sebenarnya tidak berhenti dan masih mengalir. Akhirnya dia mencoba berhenti dengan mengaji.

Dan atas kuasa Tuhan, pancuran akhirnya berhenti. Kemudian dia menulis Alquran di atas batu dengan jari telunjuknya. Saat ini batu tersebut dikenal sebagai batu Alquran.

Sejarah Batu Qur’an Versi Ketiga

Pada versi terakhir, cerita batu Alquran Banten menunjukkan kepercayaan bahwa batu tersebut adalah replika dari batu Alquran Sang Hyang Sirah.

Kisahnya diyakini terkait dengan Sayyidina Ali, Raja Munidng Wangi, dan Raja Kian Santang tempat Raja Kian Santang belajar sejarah di tanah suci di Sayyidina Ali.

Ketika kembali ke negara Pasundan, ia mengirim utusan untuk mempelajari lebih lanjut tentang hukum Islam yang berkaitan dengan khitan di Sayyidina Ali di Mekah.

Kemudian diceritakan pula bahwa Sayyidina Ali akhirnya datang ke Nusantara di Pasundan untuk memberikan kitab suci tersebut kepada muridnya, Raja Kian Santang.

Sayangnya saat itu raja sedang berada di Sahyang Sirah, Ujung Kulon untuk bertemu dengan Raja Munding Wangi.

Lalu pergi ke Sayyidina Ali ketempat itu dan berdoa di karang dulu. Namun, setelah berdoa, dia menghilang dan mungkin telah kembali ke tanah airnya di Jazirah Arab. Kemudian setelah berabad-abad, kisah menarik ini dipahami oleh Syekh Maulana Mansyur.

Anehnya, dia pergi ke Sahyang Sirah untuk menyaksikan sendiri mukjizat Allah di kolam yang jernih dengan tulisan Alquran. Akhirnya karena jarak Sahyang Sirah terlalu jauh maka dibuatlah replika batu di Kabupaten Pandeglang.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Batu Qur’an Banten. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.

Waktu Mustajab dalam Berdoa

_pur
3 min read

Adab Mandi Wajib

Mandi wajib diartikan dengan cara menyiramkan air ke seluruh bagian tubuh dengan tata cara tertentu untuk menghilangkan hadas besar.
_pur
3 min read

Bacaan Ayat Kursi

Doa ibu
2 min read