Biografi Sunan Ampel (Sejarah, Perjalanan Hidup, Kisah, Nama Asli)

3 min read

Biografi Sunan Ampel

Biografi Sunan Ampel – Dikatakan bahwa Sunan Ampel adalah ayah wali. Hal ini disebabkan oleh banyaknya ulama ulama kelas atas yang lahir di wilayah Jawa. Nama asli dalam Sunan Ampel adalah Raden Rahmat.

Kemudian mendapat gelar tersebut karena berasal dari gelar Sunan yang berasal dari gelar wali, sedangkan nama Ampel atau Ampel Denta berasal dari tempatnya di dekat daerah Surabaya.

Raden Rahmat lahir di Champa pada 1401. Menurut beberapa sejarawan, banyak ahli yang kesulitan menentukan Champa. Pasalnya, belum ada keterangan atau prasasti tertulis yang menunjukkan Champa di Malaka atau di Kerajaan Jawa.

Walisongo yakni selaku pemilik agama islam yang berjuang keras menyebarkan ilmunya kepada masyarakat indonesia khususnya daerah jawa.

Termasuk salah satu Sunan Walisongo adalah Sunan Traffic Light. Ia menyebarkan Islam melalui dakwah untuk meningkatkan akhlak yang terjadi di masyarakat saat itu.

Sebelum penyebaran Islam, masyarakat sekitar memiliki aktivitas yang tergolong jahat. Kegiatan tersebut antara lain sabung ayam, judi, dan memelihara animisme. Dengan cara ini, dia perlahan-lahan menyebarkan Islam ke masyarakat sekitar. Akibatnya, masyarakat berangsur-angsur mulai memeluk Islam.

Biografi Sunan Ampel

Sunan Ampel (Raden Rahmat) merupakan anak tertua dari Maulana Malik Ibrahim. Ia dikenal sebagai Raden Rahmat saat kecil menurut Sejarah Tanah Jawa dan garis keturunan Sunan Kudu.

Ia lahir di Campa pada 1401 dan dikatakan meninggal di Demak pada 1481. Dia dimakamkan di sebelah barat masjid lampu lalu lintas di Surabaya. Nama Ampel tersebut yakni telah diidentikkan dengan nama tempat yang didiami sejak lama, yaitu kawasan Ampel atau Ampel Denta, sebuah kawasan yang kini menjadi bagian dari Surabaya.

Beberapa dalam versi telah mengatakan bahwa Sunan Ampel datang ke Jawa bersama saudaranya Sayid Ali Murtadho pada tahun 1443. Sebelum ke daerah Jawa, dia singgah di Palembang pada 1440.

Setelah tiga tahun di Palembang, ia kemudian pindah ke wilayah Gresik. Melanjutkan ke Majapahit untuk menemui bibinya, seorang putri Campa bernama Dwarawati yang menikah dengan seorang raja Hindu Majapahit bernama Raja Sri Kertawijaya.

Asal Usul Sunan Ampel

Ayah Sunan Ampel, yakni memiliki nama Ibrahim Asmarakandi, berasal dari tanah Samarkand. Ia ditugaskan dengan pemerintah Turki untuk menyebarkan Islam ke wilayah Asia. Dan akhirnya dia sampai di negara bagian Champa untuk memenuhi kewajibannya menyebarkan Islam agar Islam bisa diterima disana.

Dan akhirnya dia menikah dengan dewi Candrawulan. Dewi Candrawulan adalah putri Raja Champa Raja Singhawarman. Akibat perkawinan antara Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan, akhirnya lahirlah Raden Rahmat dan Raden Santri Ali.

Keduanya menjadi terkenal di Matahari sebagai Sunan, yang menyebarkan Islam di Jawa. Sunan Ampel memiliki nama saat kecil, Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah. Saat pindah ke Jawa Timur, penduduk setempat memanggilnya Raden Rahmat.

Perjalanan Hidup Sunan Ampel

Sunan Ampel merupakan sebuah anggota dari sembilan Wali (Walisongo) yang menyebarkan Islam di Jawa. Seperti Sunan Maulana Malik Ibrahim, pelayanannya menyebarkan Islam di Jawa sangat bagus. Memang banyak orang yang berpendapat bahwa Bapak mereka adalah Orang Suci. Karena dari tangannya lahir daii Islam kelas wahid di Jawa.

Gelar Sunan adalah gelar Wali. Sunan Ampel lahir di Champa pada 1401. Para sejarawan kesulitan menemukan Champa di sini. Karena tidak ada keterangan atau prasasti tertulis yang menunjukkan Champa di Malaka atau di Kerajaan Jawa.

Namun sebagian sejarawan meyakini bahwa Champa adalah nama lain JEUMPA di Aceh. Mulailah, Kerajaan Champa di Aceh. Hal senada dikatakan Hamka, menurutnya menurut Van Enscyclopaedia Hindia Belanda, Champa bukan di Annam Indo China melainkan di Aceh.

Ayah Sunan Ampel yang bernama Sunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), seorang Ahlussunnah dari sekte Syafi’i dan keturunan Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra. Sheikh Jamalluddin adalah seorang ulama dari Uzbekistan, Samarqand. Ibunya bernama Dewi Chandrawulan, adik dari Putri Dwarawati Murdiningrum, istri Raja Majapahit, ibu dari Raden Fatah, Raja Brawijaya V.

Sunan Ampel mempunyai dua istri, Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati. Dengan istri pertama, dewi Karimah, ia dikaruniai dua orang anak, yaitu Raden Fatah (kerajaan Islam pertama Sultan, Demak Bintoro), istri dewi Murtasih, dan dewi yang menjadi Permaisuri Murtasimah Raden Paku atau Sunan Giri.

Dengan anak keduanya, Sunan Ampel, Dewi Chandrawati, memiliki lima orang anak yaitu Siti Syare’at, Siti Safiyah, Mutmainah Siti, Raden Makdum Maulana Ibrahim atau Sunan Bonang dan Inklusi atau Raden Saleh yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat.

Peninggalan Filosofi Moh Limo

Sunan Ampel yakni telah meninggalkan dalam sebuah ajaran dan ilmu yang terkenal bernama Moh Limo. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia belum siap melakukan 5 hal buruk.

Peninggalan-Sunan-Ampel

Termasuk dalam salah satunya adalah Moh Main atau menolak untuk bermain, Moh Minum atau menolak untuk minum anggur / minuman, Moh Pencuri atau menolak untuk mencuri, Moh Madon atau menolak untuk berzina dan Moh Madat atau menolak untuk mengambil opium, Merokok mariyuana dan sebagainya.

Seperti diketahui, banyak pengunjung yang berziarah ke traffic light Sunan. Namun, ini berarti bahwa “Maleman” Laylat al-Qadr bahkan bisa mencapai 20.000 orang. Sehingga pasti akan berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Pasti sangat cocok untuk jual makam Sunan Ampel.

Dari beberapa hal di atas dapat dipahami bahwa orang yang berdakwah di jalan Allah pasti berakhlak mulia. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat, bahkan jika dia telah meninggal, dia bisa memberikan sumber kehidupan kepada orang-orang di sekitarnya. Inilah yang bisa dimodelkan dan dibuat sebagai pelajaran hidup.

Makam Sunan Ampel

Sunan Ampel wafat di Demak pada tahun 1481 dan dimakamkan di sisi barat masjid ini. Sekitar tahun 1421 masjid ini dibangun di wilayah kerajaan Majapahit. Dilihat dari bentuknya, akan mengikuti arsitektur Jawa kuno yang didesain dengan corak Arab yang kental.

Masjid Ampel adalah masjid terbesar kedua di Surabaya hingga 1905. Secara historis, masjid ampel yakni termasuk dalam sebuah tempat para ulama dan wali untuk berdiskusi tentang penyebaran agama Islam di wilayah Jawa.

Kemudian, pada saat itu, kecuali sebagai tempat ibadah dan dakwah. Itu juga salah satu tujuan wisata religi dan ziarah. Nyatanya, bisa dipastikan tidak ada pengunjung sepi setiap hari.

Bentuk dalam sebuah struktur bangunan dengan tiang penyangga memiliki ukuran dan tinggi yang besar, yang terbuat dari kayu. Selain itu, pada plafon, yang mencerminkan kemampuannya melintasi zaman.

Masjid tersebut yakni dikembangkan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1954, 1926, dan 1972. Jauh lebih besar, mencapai 1.320 meter persegi dengan lebar 11 meter dan panjang 120 meter.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Biografi Sunan Ampel. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.