Biografi Sunan Bonang (Asal Usul, Nama Asli, Sejarah, Kisah, Letak)

5 min read

Biografi Sunan Bonang

Biografi Sunan Bonang – Raden Makhdum Ibrahim yakni telah dikenal untuk seorang guru besar dan imam besar di wilayah pulau Jawa yang sangat dihormati dan dipahami oleh masyarakat sekitar. Ia dianugerahi ilmu dan ilmu yang luar biasa dari Allah SWT.

Maka tidak heran bila ia menjadi guru besar di pulau jawa. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang Raden Makhdum Ibrahim Anda dapat menyimak artikel di bawah ini.

Biografi Sunan Bonang

Sunan-Bonang

Raden Makhdum Ibrahim adalah anak dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila yang lahir pada tahun 1465 M. Ia adalah cucu dari Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim. Hingga garis keturunan bisa diambil dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Ia juga kakak dari Sunan Drajad atau Raden Qosim.

Pengetahuan tentang Islam tidak bisa diragukan lagi. Hal ini dikarenakan Raden Makhdum Ibrahim sudah disiplin sejak kecil dan juga rajin mengajar tentang ajaran Islam bersama Sunan Ampel, ayahnya.

Agar Riyadh atau Walisongo bisa dilatih, dia harus melakukan perjalanan jauh di usia muda. Ketika Raden Makhdum Ibrahim masih muda, dia melintasi Pasai, Aceh.

Perjalanan mengadopsi ajaran Islam dari Syekh Maulana Ishak ini didampingi oleh Sunan Giri atau Raden Paku. Kemudian, setelah dirasa cukup, dia kembali ke Jawa dan tinggal di pantai utara atau di wilayah Bonang. Raden Makhdum Ibrahim belum menikah, menurut kabar yang berkembang di masyarakat.

Ini karena dia ingin memberikan hidupnya untuk menyebarkan Islam di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Dalam versi Tionghoa, berdasarkan aksara Candi Talang disebutkan bahwa nama depan Sunan adalah Bonang Liem Bong Ang. Dengan nama ini, diucapkan sebagai Bonang.

Ia ialah putra dari Bong Swi Ho yang dikenal sebagai Sunan Ampel. Jadi dia adalah cucu dari Bong Bong Keng, kakek dari Bong Swi Hwo. Dari informasi tersebut, terlihat bahwa Sunan Bonang keturunan Tionghoa menerima pendidikan dan memperoleh ajaran.

Sejarah Sunan Bonang

Ia adalah anak dari Sunan Ampel yang artinya ia juga merupakan cucu dari Maulana Malik Ibrahim. Nama depannya ialah Raden Makdum Ibrahim. Lahir pada tahun 1465 M dari seorang wanita bernama Nyi Ageng Manila, putri seorang Adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dengan pesantren ayahnya di Ampel Denta. Ketika dia cukup besar, dia bepergian ke berbagai daerah di Jawa. Awalnya dia berdakwah di Kediri dan umumnya di komunitas Hindu. Di sana ia membangun Masjid Sangkal Daha.

Ia kemudian tinggal di Bonang desa kecil di Lasem, Jawa Tengah sekitar 15 kilometer sebelah timur Rembang. Di desa tersebut ia membangun pesantren atau zawiyah dan pesantren yang sekarang dikenal terhadap nama Watu Layar.

Ia kemudian menjadi terkenal sebagai pendeta resmi Kesultanan Demak pertama dan bahkan menjadi panglima tertinggi. Namun, Sunan Bonang tidak pernah berhenti bepergian ke daerah yang sangat sulit.

Ia sering mengunjungi daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura, dan Pulau Bawean. Ia wafat di pulau ini pada tahun 1525 M. Mayatnya dimakamkan di Tuban, sebelah barat Masjid Agung, setelah diperangi oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Berbeda dengan Sunan Giri yang secara langsung fiqh, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran Ahlussunnah dengan corak tasawuf dan silsilah Salaf Ortodoks. Ia belajar hukum, mistisisme, proposal, seni, arsitektur, dan sastra. Masyarakat juga tahu bahwa Sunan Bonang piawai mencari sumber air di tempat kering.

Ajaran Sunan Bonang didasarkan pada filosofi ‘cinta’ (‘isyq’). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta itu sama dengan keyakinan, intuisi (makrifat) dan ketaatan kepada Allah SWT atau Haq al Yaqqin. Pelajaran disajikan secara populer melalui media seni populer.

Wilayah Dakwah Sunan Bonang

Setelah Sunan Bonang kembali dari Riyadh, Sunan Ampel menyewanya untuk berdakwah di daerah Tuban, Jawa Timur. Kemudian ia menjadikan Pesantren sebagai pusat dakwah dan menyebarkan Islam melalui adaptasi Jawa. Sedangkan muridnya berasal dari berbagai pelosok nusantara. Ada yang berasal dari Tuban, Pulau Bawean, Pulau Madura, dan juga Jawa Tengah.

Salah satu murid Sunan Bonang yang terkenal dan teman dekat, Sunan Kalijaga. Menurut beberapa sumber, Sunan Bonang bertanggung jawab untuk mengadaptasi adat Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga ke dalam Islam. Ia mengajari murid-muridnya Islam dengan pendekatan unik melalui alat musik Bonang, begitu pula Suluk atau Primbon, yang masih disimpan di Laiden University di Belanda.

Sumber lain menunjukkan bahwa Sunan Bonang sangat berperan dalam mengajarkan Islam kepada Raden Patah pada khususnya. Raden Patah adalah anak dari Raja Majapahit (Raja Brawijaya V) dan menjadi sultan pertama Kerajaan Demak di Jawa Tengah.

Selain itu, ia juga disebut-sebut telah membantu membangun dan menjadi pendeta pertama di Masjid Agung Demak. Sehingga tidak salah jika Sunan Bonang sangat terkenal dan disegani.

Metode Dakwah Sunan Bonang Melalui Alat Gamelan

Sebelum agama Islam masuk ke wilayah Indonesia, orang-orangnya semakin banyak yang memeluk agama Hindu dan Budha. Makanya para wali lebih banyak memberitakan tentang akulturasi budaya.

Ini tentang menanamkan unsur-unsur Islam tanpa mengubah budaya atau kebiasaan masyarakat sebelumnya. Sunan Bonang sendiri menyebarkan Islam melalui budaya Jawa. Ia menggunakan kesenian rakyat seperti pertunjukan wayang dan permainan gamelan (bonang) untuk menggugah simpati.

Gamelan Bonang adalah salah satu alat musik kesenian daerah yang terbuat dari kuningan dengan bentuk bulat dan ada gumpalan di tengahnya. Bila dipukul dengan kayu lunak akan mengeluarkan suara yang merdu.

Apalagi yang memainkannya adalah Sunan Bonang. Saat memainkan alat musik ini, masyarakat sekitar mendengarkan. Faktanya, mereka tidak sering ingin mencoba menghasilkan lagu pengiring juga.

Sunan Bonang adalah seorang wali yang mempunyai sebuah cita rasa seni yang tinggi. Setiap lagu yang dijadikan pertunjukan wayang diisi dengan pesan-pesan islami, dan setiap ayat ditambah dengan dua kalimat syahadat.

Dengan demikian, orang akan dengan mudah bisa menerima ajaran Islam dengan senang hati tanpa adanya paksaan. Setelah mendapatkan hati dan simpati, ia hanya akan mengisi Islam yang lebih dalam.

Dalam pedalangan, dia adalah dalang yang sangat berbakat yang menarik dan memukau penonton. Setiap aransemen Sunan Bonang memiliki nuansa Dzikir yang mendorong penonton untuk mencintai alam baka.

Dia juga suka mengganti mainan boneka untuk memasukkan kepemimpinan Islam. Salah satu cerita paling terkenal adalah Pandawa dan Kauravia, yang dikaitkan dengan agama Hindu pada saat itu.

Metode Dakwah Sunan Bonang Melalui Karya Satra

Selain pementasan gamelan dan wayang, Sunan Bonang juga dikenal banyak mengalihfungsikan karya sastra ke dalam bentuk Tembang Tembang atau Suluk. Salah satu karyanya yang dibawakan hingga saat ini adalah lagu Tombo Ati (Penyembuh Jiwa).

Menurut kosakata bahasa Arab, Suluk sendiri berarti mengikuti jalan Tariqah atau tasawuf. Jika dibawakan dalam bentuk lagu disebut suluk, sedangkan bila diuraikan dalam bentuk prosa disebut wirid.

a. Suluk wujil

Suluk Sunan Bonang yang paling terkenal adalah Suluk Wujil. Nama Wujil diambil dari nama salah satu Cantriks. Ada dua makna dalam puisi itu, yang pertama menggambarkan mood transisi dari Hindu ke Islam.

Baik dari segi budaya, sastra, politik, kepercayaan, dan intelektual. Misalnya runtuhnya Kerajaan Majapahit, kerajaan Hindu terbesar dan terakhir di Pulau Jawa, digantikan oleh kesultanan Demak.

Sedangkan kepentingan keduanya menjelaskan pertimbangan ilmu sufi, yaitu kajian tentang konsep ketuhanan sekaligus khazanah. Suluk ini tercipta karena salah satu siswanya, Wujil Kinasih, ingin mengetahui pro dan kontra agama dengan rahasia terdalam. Apakah ilmu kebatinan berarti Wujil tersirat bahwa ilmu adalah tentang dirinya sendiri, inti maksud dan tujuan orang yang beribadah.

b. Gita Suluk Latri

Puisi yang disimpan Sunan Bonang di Universitas Laiden menggambarkan seseorang menunggu kehadirannya. Dan saat itu sudah larut malam, kegelisahan dan kerinduan saya meluap. Tetapi ketika yang dicintai telah datang, dia akan melupakan segalanya kecuali wajah kekasihnya. Hingga akhirnya dia terbawa ombak ke laut yang tak terbatas.

c. Suluk Gentur atau Suluk Bentur

Suluk Gentur atau Bentur melambangkan jalan yang harus diikuti untuk mencapai ulama sufi tertinggi. Puisi ini di tulis dengan lagu wirangrong yang sangat panjang. Kata keberanian atau benjolan itu sendiri sudah lengkap atau sempurna. Namun, banyak yang mengartikannya sebagai bentuk semangat atau ketekunan. Isi Suluk ini mencerminkan akidah Da’im Qa’im dan Idafi Ruh yang fana.

Syahadat da’im qa’im sebagai anugerah melihat seseorang yang bersatu dengan Tuhan. Singkatnya, syahadat tersebut adalah: Syahadat (kesaksian) sebelum kelahiran dunia, iman ketika masuk Islam, dan iman yang diucapkan oleh para nabi, orang suci dan orang-orang yang benar-benar mempercayainya. Adapun pikiran fana ‘iduh, inilah salah satu bentuk bukti ayat Al-Qur’an 28:88 yang berbunyi, “Semuanya akan lenyap kecuali wajah”.

d. Suluk Khalifah

Sedangkan Khalifah Suluk lebih merupakan gambaran tentang kisah perjuangan Wali Songo selama kelas Islam di Indonesia. Puisi mengecualikan khalifah adalah cerita spiritual tentang bagaimana orang-orang kudus Allah mengajar mereka ke Islam. Selain itu ada juga cerita Sunan Bonang saat memesan artikel Riyadh di Aceh dan cerita saat haji.

e. Gita Suluk Wali

Gita suluk wali adalah karya Sunan Bonang berupa teks puisi yang menarik. Puisi yakin mereka pasti mengandung Sunskrit sementara Leber dipasang karena cinta seperti di air laut atau dibakar oleh api. Selain itu, di akhir ayat ini dituliskan pepatah sufi yang berbunyi “Qalb al-mukmin bait Allah”, yang artinya hati manusia percaya sebagai tempat tinggal Allah SWT.

f. Suluk Jebeng

Suluk jebeng dikenal dalam lagu Dandanggula. Nama Jebeng diambil dari istilah anak muda yang dibesarkan untuk mencari ilmu. Suluk diawali dengan perbincangan tentang pembentukan khalifah di muka bumi dan pengakuan harga diri sebagai upaya menuju jalan yang benar. Selain itu Suluk ini juga menggambarkan kesatuan manusia dan Gustine yang digambarkan sebagai gema dan suara yang harus dipahami.

Makam Sunan Bonang Ada Dua

Kisah Makam Sunan Bonang yang bermula dari dua rencana penguburan adalah perjuangan para santri. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M di daerah Lasem, Jawa Tengah. Saat itu, berita kematian Sunan Bonang dengan cepat menyebar ke seluruh tanah Jawa, sehingga murid-muridnya datang dari berbagai sudut untuk memberikan penghormatan terakhir.

Pertama, jenazah Sunan Bonang dimakamkan di dekat makam Sunan Ampel di wilayah Surabaya. Akan tetapi, santri Sunan Bonang dari Madura menginginkan pemakamannya berlangsung di Madura. Ketika santri Tuban mendengar bahwa jenazah Sunan Bonang diangkut ke Madura dengan perahu, mereka bertempur, dan akhirnya kapal tersebut terdampar di perairan Tuban.

Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Jami ‘Tuban. Ketika siswa Madura hanya diperbolehkan membawa kafan dan pakaian, ada dua kali pemakaman. Akan tetapi yang dianggap asli dan sering dikunjungi adalah makam di Tuban.

Setidaknya hanya Tuhan yang tahu bahwa kita dapat menerima hikmah bahwa Tuhan akan mencintai kekasih-Nya dengan tidak menimbulkan permusuhan di antara kedua murid Sunan Bonang.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Biografi Sunan Bonang. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.