Biografi Sunan Giri (Asal Usul, Sejarah, Kisah, Nama Asli)

3 min read

Biografi Sunan Giri

Biografi Sunan Giri – Tempatnya di wilayah Blambangan (Banyuwangi) pada tahun Saka Candra Sengkala “Jalmo orek werdaning Ratu” (1365 Saka). Sunan Giri wafat pada tahun pemakaman Saka Candra Sengkala “Sayu Sirno Sucining Sukmo” (1428 Saka) di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Menurut keturunannya, Sunan Giri juga merupakan keturunan Nabi Muhammad. Hal ini dimungkinkan oleh keturunan Husain bin Ali, Muhammad Al-Baqir, Ali Zainal Abidin, Ja’far Ash-Shadiq, Muhammad al-Naqib, Ali al-Uraidhi, Isa ar-Rummi, Ubaidullah, Alwi Awwal, Ahmad Al-Muhajir, Muhammad Sahibus sampai pada ‘Ainul Yaqin dan Maulana Ishaq, atau lebih dikenal sebagai sebutan Sunan Giri.

Penyebaran dalam sebuah agama Islam di wilayah Indonesia, khususnya di pulau Jawa dilakukan oleh Walisongo. Walisongo merupakan tokoh agama yang dihormati dan dihormati masyarakat atas kontribusinya dalam menyebarkan ajaran Islam. Salah satu tokoh dari Walisongo ialah Raden Paku atau Sunan Giri.

Ia merupakan anak dari seorang ulama Gujarat yang menikah dengan Dewi Sekardadu. Ibu Sunan adalah putra kerajaan Hindu di Blambangan. Ia adalah pendiri Kerajaan Giri Kedathon di Gresik. Ia memainkan peran penting dalam menyebarkan Islam di Jawa dan Nusantara dengan menggunakan kekuatannya dan mengikuti jalur perdagangan.

Sunan Giri yakni telah mengembangkan pendidikan Dakwah Islam dengan menerima siswa dari berbagai daerah di Indonesia. Sejarah mendokumentasikan jejak-jejak Dakwah dan keturunannya di wilayah Banjar, Pasir, Martapura, Nusa Tenggara, Buton, Kepulauan Maluku, Kutai di Kalimantan dan Gowa di Sulawesi.

Biografi Sunan Giri

Sunan-Giri

Ayah Sunan Giri bernama Maulana Ishaq, sedangkan ibunya bernama Dewi Sekardadu, seorang dai Islam dari Asia Tengah yaitu Dewi Sekardadu. Dewi Sekardadu adalah putri Raja Menak Sembuyu yang menjadi salah satu penguasa di wilayah Blambangan, khususnya pada hari-hari terakhir Majapahit.

Asal Usul Sunan Giri

Ayahnya, Syekh Maulana Ishaq, sangat antusias menyebarkan ajaran Islam di Jawa Timur. Kemudian dia bertemu dengan Sunan Ampel yang masih bersaudara.

Sunan Ampel berpesan agar Maulana Ishaq menyebarkan ajaran Islam di daerah Blambangan, Banyuwangi. Saat itu Maulana Ishaq pergi ke Blambangan. Saat Syekh Maulana sampai di Ishaq Blambangan, ternyata masyarakat sekitar sedang mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Hal yang sama yakni telah terjadi pada putri Raja Blambangan yang sedang berkuasa di Banyuwangi. Kemudian raja mengadakan pertandingan yang melibatkan seseorang yang dapat menyembuhkan putrinya yang dinikahinya. Namun, ketika seorang wanita menikah, dia adalah putra raja dari gereja-gereja kecil.

Akhirnya raja memerintahkan pasukan untuk menemukan sihir yang dapat menyembuhkan wabah penyakit. Tentara raja bertemu Resi Kandayana, seorang pertapa yang kuat. Kemudian Resi memberikan informasi kepada tentara kerajaan tentang keahlian Syekh Maulana Ishaq. Kali ini, Syekh Maulana Ishaq bertemu dengan Raja Blambangan.

Syekh Maulana Ishaq akan menyembuhkan wabah penyakit sang putri, dewi Sekardadu, asalkan semua keluarga siap masuk Islam. Dan setelah Syekh Maulana Ishaq mengobati wabah penyakit putri raja, penyakit itu akhirnya sembuh. Alhasil, ia akan menikahi putrinya dan semua keluarga kerajaan masuk Islam.

Namun, raja sulit masuk Islam, dia iri dengan keberhasilan Syekh Maulana Ishaq, sehingga rakyatnya masuk Islam. Akhirnya raja mengirim pasukannya untuk menghentikan Syekh Maulana Ishaq dari dakwah dan juga memerintahkan eksekusi.

Akibatnya ketika berada di komunitas kecil, ia merasa tidak nyaman dan menimbulkan masalah dan memutuskan untuk kembali ke cerita rakyat Aceh. Sekembalinya ke Pasai, istri Dewi Sekardadu mengandung bayi mereka. Dan setelah bayi tersebut lahir, Raja Blambangan memerintahkan agar bayi tersebut dibunuh dengan cara menyapu jalanan Bali.

Setelah sekian lama melaut, bayi itu ditemukan oleh kapal dagang asal Gresik, Nyai Ageng Pinatih. Ageng Pinatih seorang pedagang yang tidak memiliki anak. Dan akhirnya bayi itu menjadi laki-laki bernama Jim dan Samudro.

Perjalanan Sunan Giri Dari Lahir

Dalam perjalanan Sunan Giri dari lahir ke Sunan, ini bukanlah perkara yang sederhana dan lugas. Beberapa tahapannya adalah:

Masa Kelahiran Sunan Giri

Banyak orang menganggap komunitas kecil Giri lahir sebagai kutukan. Makna kutukan itu adalah tulah di Pegunungan Blambangan. Saat kelahiran Sunan Giri dirayakan dengan pembuatan peti besi untuk tempat bayi. Kemudian para pengawal istana sengaja membasuh diri di laut, hal ini dilakukan oleh Raja Menak Sembuyu.

Keberadaan Sunan Giri Diketahui

Ternyata peti besi dengan bayi Sunan Giri itu masih aman dan diterjang ombak hingga terbawa ke tengah laut. Peti itu bahkan mengeluarkan cahaya yang tampak seperti kapal kecil di tengah laut.

Mencari Keberadaan Sunan Giri

Tak lama kemudian kabar tersebut menyebar dan sampai ke telinga ibunya Dewi Sekardaru. Mendengar hal itu, Dewi Sekardadu langsung kaget dan tak percaya dirinya mengejar sang bayi.

Saya sangat gugup dan prihatin dengan kondisi bayi itu sehingga Dewi Sekardadu tidak peduli di pantai siang atau malam. Faktanya, dia bahkan tidak memikirkan nasibnya sendiri. Hingga suatu saat dewi Sekardadapun meninggal saat mencari.

Sunan Giri Ditemukan

Alkisah ada sekelompok awak kapal (pelaut) yang ingin pergi ke pulau Bali. Si kelasi merasa penasaran dengan kelap-kelip cahaya dari jauh dan mendekatinya. Ternyata dia kaget setelah diajak bicara lalu mengambil dada yang berkedip dan membukanya.

Isi payudaranya manis, kuat, lincah, dan cerah seperti bayi. Para kru senang kemudian kembali ke Gresik. Ini seharusnya memberi Nyai Gede Pinatih apa yang Anda temukan.

Sunan Giri Dirawat Saudagar

Nyai Gede Pinatih melihat bayi yang lucu dan mungil ini senang dan ingin merawat buah hatinya. Bayi tersebut kemudian diadopsi sebagai seorang anak bernama Joko Samudra. Pasalnya, Nyai Gede Pinatih adalah seorang pedagang di Gresik yang memiliki kapal.

Sunan Giri Ketika Menginjak Usia Remaja

Seiring berjalannya waktu, Sunan Giri beranjak remaja dan beranjak dewasa. Di usia 12 tahun, Joko Samudra membawa ibunya ke Surabaya untuk belajar ilmu agama dari Raden Rahmat (Sunan Ampel) atas permintaannya sendiri.

Masa Pembelajaran Agama Kepada Sunan Ampel

Tak lama setelah kelas, Sunan Ampel langsung bisa mengenali jati diri Sunan Giri. Bahkan ia menjadi murid favorit hingga akhirnya diutus bersama Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang) untuk belajar Islam di Pasai.

Ini terjadi sebelum Sunan Ampel menyelesaikan niatnya untuk bermain haji. Kemudian ia dengan senang hati diadopsi oleh Maulana Ishaq, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Sejak saat itu, Joko Samudra mengetahui bagaimana cerita tersebut berkaitan dengan kehidupan sebagai seorang anak.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Biografi Sunan Giri. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.