Biografi Sunan Gunung Jati (Sejarah, Nama Lengkap, Asal Usul, Kisah)

6 min read

Biografi Sunan Gunung Jati

Biografi Sunan Gunung Jati – Di negara Indonesia yakni sangat terkenal karena utusan atau Waliyullah adalah seorang Sunan yang biasa dipanggil Walisongo. Ada 9 Sunan atau Wali yang tersebar di beberapa daerah, salah satunya ialah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Salah satu tokoh Walisongo tersebut berasal dari Kesultanan Cirebon atau yang lebih dikenal dengan Gunung Sembung Gunung Jati, daerah Cirebon. Kisah Sunan Gunung Jati identik dengan caranya menyebarkan agama Islam di berbagai daerah dan negara.

Selain itu, dalam sebuah kisah cintanya dengan gadis Tionghoa kala itu membuat cerita yang kental dengan budaya Islam Tionghoa. ALP dikenal sebagai manusia yang taat dan memiliki berbagai macam ketrampilan khususnya di bidang agama dan agama.

Namanya pun muncul sebagai tonggak yang diabadikan karena salah satu nama Perguruan Tinggi Islam di wilayah Tangerang, Banten adalah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Saat itu nama Sunan Gunung Jati diabadikan sebagai nama Perguruan Tinggi Islam di wilayah Bandung Provinsi Jawa Barat.

Ayahnya yakni termasuk salah satu seorang penguasa di Mesir, dan bersama dengan ibunya, putra Prabu Siliwangi dari sebuah Kerajaan Padjajaran, membuat Sunan Gunung Jati sangat disegani. Syarif Hidayatullah yakni telah mewarisi ajaran spiritual dari kakeknya dan mulai mendalami agama dengan masuk ke pesantren dan menyebarkan ajaran Islam di Timur Tengah.

Biografi Sunan Gunung Jati

Biografi-Sunan-Gunung-Jati-1

Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati lahir dari Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alim dan Nyai Rara Santang. Dia lahir pada tahun 1448 M dan tumbuh besar dia ditunjuk oleh ayahnya untuk memimpin kerajaan. Namun ia menolak karena ingin menyebarkan ajaran Islam.

Yang tinggal bersama orang tuanya di Timur Tengah, memutuskan untuk kembali ke Barat untuk menyebarkan Islam dengan sengaja. Di usia 25 tahun ia dikenal sebagai ulama yang dihormati menyebarkan agama Islam. Tidak hanya itu, ia juga dihormati karena perilakunya yang adil dan bijaksana.

Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai cucu Prabu Siliwangi adalah seorang ulama yang sangat mempengaruhi penyebaran agama Islam di Cirebon. Dia berhasil menyebarkan Islam dengan mengundang salah satu tentaranya atau orang-orangnya untuk masuk Islam. Karena kegigihannya inilah, ia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam.

Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarih Hidayatullah wafat pada 19 September 1569 pada usia 121 tahun. Ia dimakamkan di Gunung Sembung di Desa Astana, Kabupaten Cirebon. Makam ini juga menjadi salah satu tempat wisata Walisongo yang masih ramai dikunjungi orang dan wisatawan.

Perjalanan Hidup Sunan Gunung Jati

Kisah Sunan Gunung Jati patut untuk dipahami saat ia berjuang menyebarkan Islam. Dengan tidak pernah melihat ada orang yang masuk Islam, yang membuat mereka menjadi panutan atau ulama yang hebat di masyarakat, khususnya masyarakat Cirebon.

Oleh karena itu, pada pembahasan selanjutnya akan dipaparkan beberapa biografi dan cerita karyanya. Berikut ini beberapa informasi tentang perjalanan hidup Sunan Gunung Jati yang dapat digunakan sebagai bahan ilmiah dan sejarah oleh para ilmuwan Walisongo di Indonesia.

a. Keterampilan yang Diperoleh

Sunan Gunung Jati telah memperoleh berbagai keterampilan. Antara lain di bidang agama, kedokteran, ahli bahasa dan beberapa di bidang politik dan strategi perang. Terutama kepiawaiannya di bidang strategi politik yang berhasil menggulingkan kerajaan Padjajaran, sehingga berhasil mengusir Portugis yang menjajah wilayah Selat Sunda saat itu.

Selain keahlian politiknya, Sunan Gunung Jati juga dikenal sebagai ahli di bidang kesehatan dan penyembuhan penyakit. Ia dikenal sebagai ahli dalam mengenali gejala penyakit atau mengobati penyakit dengan kekuatannya. Mungkin itu benar-benar hadiah ahli yang diberikan Tuhan kepada salah satu karakter Walisongo.

b. Menikah dengan Seorang Putri Cina

Pernikahan terkenal dengan putri kaisar Tiongkok Nyi Ong Tin dimulai dengan tantangan kaisar Tiongkok. Kaisar Tiongkok menghadiahkan Sunan Gunung Jati tantangan yang berhasil dengan kekuatannya. Sunan Gunung Jati mampu menjawab pertanyaan kaisar Tionghoa.

Awalnya Kaisar Cina mengira jawabannya salah dengan mengusir Sunan Gunung Jati, namun akhirnya jawaban itu ternyata benar dengan mengikuti Sunan Gunung Jati untuk bertemu. Selain pernikahannya yang sukses dengan putrinya Ong Tin, dia juga berhasil memasukkannya ke Islam.

c. Memuslimkan Ribuan Prajurit

Ketika sudah berhasil untuk mengajak isterinya, dia juga berhasil mengajak semua kaisar China untuk memeluk Islam. Jumlahnya ratusan bahkan ribuan sehingga kepiawaian Sunan Gunung Jati dalam Islam tidak perlu diragukan lagi.

d. Menyebarkan Islam dengan Cara yang Unik

Sunan Gunung Jati memiliki cara menyebarkan agama Islam. Begitulah penggunaan media gamelan di Cirebon. Ketika Anda mengatakan bahwa semua orang yang ingin melihat pertunjukan ansambel ALP harus terlebih dahulu mengucapkan dua kata syahadat. Oleh karena itu, ia menggunakan gamelan sebagai media penyebaran agama Islam

Bahkan setelah ratusan tahun, gamelan ini masih dimainkan di pengadilan hingga saat ini. Rangkaian gamelan berupa gong, bonang dan saron masih tersimpan rapi di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Kadang-kadang digunakan dalam pertunjukan selama hari-hari besar Islam.

e. Kesultanan Cirebon

Sekitar tahun 1487 Syarif Hidayatullah berhasil diangkat menjadi Sultan Cirebon. Hal ini sangat terkait dengan keberadaan Walisongo, termasuk Sunan Gunung Jati yang berperan penting dalam sejarah terbentuknya Kesultanan Demak. Hal ini sejalan dengan rencana Sunan Ampel (sarjana senior di Walisongo) untuk menyebarkan agama Islam di Jawa.

Sunan Gunung Jati tidak hanya piawai menyebarkan agama Islam, ia juga memiliki berbagai ketrampilan dan kesaktian. Cukup banyak pengikutnya yang percaya bahwa Sunan Gunung Jati yang pernah menjadi anggota Walisongo sebenarnya adalah utusan atau wali yang sakti.

Dalam mengenang perjuangan dan komitmennya terhadap suatu menyebarkan agama Islam, semua bisa kita saksikan saat mengunjungi makam salah satu tokoh Walisongo. Tempat tersebut sebenarnya digunakan sebagai tempat ziarah religius yang terbuka untuk umum. Sayangnya, makam Sunan Gunung Jati dilarang untuk dilihat secara langsung.

Bangunan dan arsitektur Tionghoa akan terlihat di semua ruangan dan bagian makam. Pengunjung hanya bisa berdoa di depan beranda pintu makam yang dikelilingi tembok yang terbuat dari keramik Cina. Hanya keturunan wali asli yang diizinkan memasuki area kuburan.

Perjalanan Dakwah Oleh Sunan Gunung Jati

Ceramah yang dibawakan Sunan Gunung Jati dengan berbagai cara seperti beebrayan, akulturasi budaya, kesenian, dan lain-lain. Syarif Hidayatullah juga menyebarkan Islam melalui peperangan saat memperjuangkan Kesultanan Cirebon. Kegigihan itulah yang membuat mereka menjadi begitu banyak orang yang mengagumi dan mengenali mereka hingga sekarang.

Cara Raden Syarif menyebarkan Islam dikenal unik. Sama seperti Wali lainnya, mereka menerapkan metode seni yang mudah diterima masyarakat Cirebon. Media penyebaran Islam, yang digunakan untuk menari, dan siapa pun yang ingin melihat pertunjukan ansambel Raden Syarif, menyarankan agar mereka menjelaskan iman terlebih dahulu.

Pertempuran Syarif yang paling terkenal adalah pada masa berdirinya Kesultanan Banten dan inti sari kelapa Sunda. Syarif Hidayatullah mengalami pertempuran yang sulit seiring dengan ekspansi Portugis ke Nusantara pada saat itu.

Ia memainkan peran penting dalam memimpin Pati Unus, yang akhirnya meraih kemenangan ketika ia mengusir Portugis dari wilayah Cirebon. Kecerdikan dan kemampuan menyusun strategi untuk membuat musuh mundur dalam pertempuran.

Metode dakwah Syarif Hidayatullah menjadi lebih lancar dan ramah setelah kembali dari Mekah bersama putranya Maulana Hasanuddin. Keduanya membantu semua orang di Provinsi Banten untuk menjadi relawan Muslim. Perjuangan LP dengan menahan penarikan Portugis.

Kemudian dia juga berjasa untuk Nyawijine Banten, sehingga banyak orang beranggapan bahwa ALP yang pada saat itu menguasai barat. Namun, dia menolak, dengan mengatakan bahwa putranya pantas menjadi sultan. Maulana Hasanuddin diangkat menjadi Sultana Banten oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1552.

Makam Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati berusia sekitar 120 tahun. Dia dikatakan meninggal sekitar tahun 1568 M di pertengahan abad ke-15. Ia dimakamkan di sebuah bukit di daerah Cirebon. Bukit tersebut bernama Bukit Sembung dan khusus dibangun di pinggiran kota Cirebon. Makam Sunan Gunung Jati terletak di kompleks pemakaman seluas 5 hektar.

Ada sekitar 500 kuburan di Gunung Sembung. Makam istri Sunan Gunung Jati, Putri Ong Tien Nio (Nyi Ratu Rara Semanding) juga ada di lokasi. Makam Sunan Gunung Jati pasti penuh dengan peziarah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Cirebon, Jawa Barat, atau daerah lain di Jawa.

Apalagi pada Jumat malam di Kliwon, suasana makam bakal ramai dikunjungi peziarah. Di bulan Maulid, pusaka kerajaan dipajang dari istana di seberang alun-alun saat perayaan “Jimat Panjang”. Kompleks makam Gunung Jati Sunan terdiri dari dua kawasan bukit, yaitu Bukit Sembung dan Bukit Gunung Jati yang hanya berjarak ratusan meter.

Karomah yang Dimiliki Oleh Sunan Gunung Jati

Setiap orang suci atau walisongo yakni tentunya mempunyai karama sendiri yang membantunya menyebarkan agama Islam dan tentu saja menunjukkan kekuatan Allah. Misalnya Sunan Bonang yang seizin Tuhan bisa mengubah Aren Pohoh menjadi emas. Bagaimana karomah milik Raden Syarif Hidayatullah?

Karomah konon ada di Babad Tanah Sunda atau Babad Cirebon. Konon Sunan pernah melakukan rukun Islam kelima yaitu berziarah ke kota Mekkah. Ibunya memberinya paket makan siang berisi 100 dirham.

Namun, ternyata Raden Syarif dicegat oleh sekelompok perampok yang berusaha menyita hartanya. Tapi tanpa basa-basi, dia menawarkan uang untuk perampokan tersebut. Pencuri memiliki kebebasan dan percaya bahwa dia pasti menghasilkan lebih banyak uang.

Kemudian perampok memaksanya untuk menyerahkan aset lain. Sang Sunan hanya tersenyum dan bahkan berkata sambil menunjuk ke pohon, “Ini untukmu jika kamu melewatkannya.” Kemudian pohon biasa berubah menjadi emas.

Perampok itu pasti kaget dengan apa yang dilihatnya di depannya. Ketiga pencuri tersebut akhirnya meminta Sunan untuk bertobat, dan ia membuat dua syahadat dan kemudian resmi menjadi murid.

1. Sorban Sakti Milik Raden Syarif Hidayatullah

Karomah lain, yang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan Allah dan untuk membuktikan bahwa ajaran Islam yang benar adalah agama yang diridhoi, juga ditunjukkan melalui sorban gaib. Jadi katanya, jika terjadi perang antara pasukan Demak dan tentara Majapahit, Raden Syarif akan menghadapi musuh yang sulit.

Untuk melawan musuh ini, Raden Syarif mengenakan serban dan tentara tikus muncul yang jumlahnya tidak terhitung banyaknya, yang kemudian menyerang tentara Majapahit, menyebabkan dia membuka dan kehilangan Helle skelter.

2. Mampu Berjalan di Atas Air

Karomah lain milik Sunan Gunung Jati, selain mengubah pohon biasa menjadi emas, juga bisa berjalan di atas air. Kronik yang sama mengatakan bahwa dia meninggalkan Mesir menuju pulau Jawa, yang dengan sengaja dia seberangi melintasi lautan. Bukannya menyeberangi lautan dengan perahu, dia menyeberangi lautan dengan berjalan tanpa alas kaki.

3. Mampu Memindahkan Istana Kerajaan Hindu Pakuan ke Alam Gaib

Karomah berikutnya yang juga mengejutkan dan mengejutkan saya adalah kemampuan membawa kerajaan Hindu-Pakuan ke alam gaib. Hal ini semula karena kerasnya penolakan para pendeta Sunda awal yang menentang keberadaan Islam atau sekedar meninggalkan wilayah kraton Pakuan.

Maka cerita diawali dengan jatuhnya kerajaan Galuh Pakuan yang menjadi ibu kota kerajaan Sunda pada tahun 1568. Kerajaan tersebut runtuh akibat kekalahan pasukan Demak yang kemudian dipimpinnya.

Kemudian dilakukan perundingan terakhir dengan para petinggi Kerajaan Galuh Pakuan. Jika ia siap masuk Islam, maka kedudukan istana akan dipertahankan dan bermartabat seperti gelar pangeran, panglima atau putri dan harus diizinkan untuk tinggal di istana.

4. Mampu Menghilangkan Pasukan Tentara Pangeran Kuningan

Konon Sunan bertanya kepada Pangeran Kuningan bagaimana dia bisa membuat raja Pasundian masuk Islam. Kemudian Pangeran Kuningan menjawab bahwa dia bisa membawa pasukan yang sangat besar dengan Jimate.

Caranya juga sangat sederhana: cukup kumpulkan berbagai kerikil dan jamur, lalu bawa dengan jimat Cupu Tirta Bala. Kemudian pasukan yang jumlahnya tak terduga datang memenuhi semua tempat di Cirebon.

Tentunya, kehadiran pasukan yang besar membuat masyarakat Cirebon resah. Kemudian Raden Syarif Hidayatullah membacakan tentara dalam doa. Dengan izin Tuhan, ratusan pasukan langsung menghilang dan kembali menjadi kerikil dan berjamur.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Biografi Sunan Gunung Jati. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.