Biografi Sunan Kudus (Sejarah, Asal Usul, Makam, Perjuangan, Metode Dakwah)

3 min read

Biografi Sunan Kudus

Biografi Sunan Kudus – Nama Walisongo yakni tidak biasa di benak kita, para wali yang menjadi sahabat Tuhan dan memberi keyakinan untuk mengajarkan Islam kepada umat.

Ia berperan penting dalam perkembangan dan penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kudu as.

Terkenal karena mengajar hukum, dia menjadi salah satu anggota Walisongo yang paling terkenal sebagai orang suci sains. Selain itu, Sunan Kudus merupakan pendeta Syiah keenam.

Sosok yang sangat dihargai oleh masyarakat atas ajarannya dalam menyebarkan ilmu pengetahuan tentang agama Islam. Hingga saat ini, nama Sunan dikenal di masyarakat dan warisannya masih terjaga. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini dibahas tentang Sunan Kudu.

Sunan Kudus

Kisah penyebaran Islam di Jawa tidak seperti biasanya, disaksikan oleh seorang wali yang mendapat julukan Wali Songo. Imam itu dikenal sebagai Sunan Kudu dengan nama lengkap Sayyid Jafar Shadiq Azmatkhan. Keterampilan utama Sunan Kudu adalah pelatihan ilmu Fiqih.

Sunan Kudu adalah seorang ulama yang terkenal dengan ilmunya yang merupakan pendeta Syiah keenam. Cara penyebaran dan perkembangan Islam memang patut mendapat pengakuan. Ia dikenal sebagai pria yang disegani oleh banyak orang dan betapa sulitnya mengingat penganut Hindu Budha yang kuat di Indonesia saat itu.

Biografi Sunan Kudus

Sunan Kudu dengan nama asli Sayyid Jafar Shadiq Azmatkhan lahir di salah satu kota pelajar di Jawa Tengah. Ia adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Hajji, panglima perang Kesultanan Demak.

Sunan-Kudus

Ayahnya Sunan Kudus merupakan anak kandung Sultan Sayyid Fadhal Ali Murtazha dan kemudian pindah ke Jawa untuk menyebarkan Islam. Perjalanan ayah Sunan Kudu sangat dekat dengan Sunan Ampel yang saat itu mengajar agama dengan Sunan Kudu.

Istrinya adalah adik dari Maulana Mahkdum Ibrahim atau Sunan Bonang, yang sama-sama bersekolah di Sunan Ampel. Dan ia menikah dengan putra Sunan Ampel, yaitu Siti Syarifah (Nyai Ageng Maloka).

Guru lainnya, Kyai Telingsing, adalah seorang sarjana Cina yang menyebarkan Islam dengan Cheng Hoo. Jafar Shadiq memiliki bakat luar biasa dan posisi bagus di Kesultanan Demak. Antara lain, dia adalah penasihat khalifah, panglima perang, qadhi, pendeta agung, mufti, dan mursyid tarekat.

Sunan Kudus juga belajar dengan Sunan Muria dengan Sunan Ngerang (Ki Ageng Ngerang), kakek dari Ki Ageng Mertani sebagai pemikir utama pembentukan Mataram.

Metode Dakwah Sunan Kudus

Di masa lalu, mayoritas orang memeluk agama Hindu dan Budha. Tidak mudah untuk mengenalkan dan mengajarkan Islam, namun tidak bagi Sunan Kudu yang menggunakan metode pendekatan syiar atau kultural agar mudah diterima oleh masyarakat. Inilah metode dakwah yang dikhotbahkan:

Mendekati Masyarakat Hindu

Komunitas India sangat teguh dalam keyakinan mereka bahwa metode ini sulit diterapkan, tetapi mereka berusaha membuat orang memeluk Islam. Ja’far Shadiq mengajarkan bahwa umat Islam memiliki toleransi yang tinggi terhadap masyarakat Hindu sehingga dapat terus maju jika ingin masuk Islam.

Ajarannya adalah menghormati sapi yang ditahbiskan umat Hindu dan pembangunan menara masjid yang hampir identik dengan pembangunan candi Hindu.

Mengubah Ritual Mitoni (Selametan)

Acara ini merupakan acara yang telah lama disakralkan oleh komunitas Hindu-Budha. Isi mitoni adalah cara mengucapkan terima kasih atas restu dengan seorang anak.

Syukur kepada arca dan arca, bukan kepada Allah SWT. Tugas utama Sunan adalah mengklarifikasi isi acara, yaitu acara dibuat secara islami dan tidak dibuang begitu saja.

Mendekati Masyarakat Budha

Cara ini berbeda dengan cara yang dilakukan masyarakat Hindu saat membuat wujud cucian berbentuk pancuran dengan delapan titik pancuran.

Setiap mandi menerima patung Kebo Gumarang, yang dipuja sebagai penganut Buddha. Alhasil, ia menjadi penasaran dan akhirnya masuk ke dalam kawasan masjid, sangat terpengaruh dengan deklarasi Sunan dan menjadi seorang Muslim.

Filosofi Kehidupan yang Diajarkan Sunan Kudus

Perjalanan dakwah Jafar Sadiq saat itu dinilai sangat sulit karena langsung dihadapkan dengan ajaran agama Hindu Budha yang diajarkan oleh masyarakat nusantara.

Meski ajaran aslinya berasal dari Syiah, namun melalui akulturasi budaya mereka bisa mengirimkan dengan cara yang baik. Hanya dengan cara inilah orang bisa memeluk Islam saat ini.

Sunan Kudus mengatakan Islam memiliki toleransi yang tinggi, termasuk Hindu. Adalah Sunan Kudu untuk meyakinkan masyarakat Hindu dan mendekatkan diri dengan sangat sulit.

Ia berusaha membudayakan dirinya dengan cara membangun masjid yang bentuknya hampir mirip candi Hindu. Sementara itu, pengkhotbah lain yang berlatih untuk umat Buddha hampir identik dalam pendekatan mereka kepada umat Hindu.

Sunan Kudu membuat tempat wudhu berupa pancuran delapan pancuran. Setiap pancuran bahkan memuat patung Kebo Gumarang, yang sangat dihormati dalam agama Buddha. Umat ​​beriman pun penasaran dan memasuki area masjid. Perlahan tapi pasti dia dipengaruhi oleh ajaran Sunan hingga akhirnya mereka memeluk Islam.

Perjuangan Sunan Kudus tidak berhenti sampai di situ, ia juga berusaha mengubah keyakinannya saat melakukan mitoni atau ritual hajatan. Ritual tersebut biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada dewa dengan arca dan pahatan yang diberkahi karena telah melahirkan anak.

Hal ini kemudian dilanjutkan oleh Sunan, menggantikan ritual syukur hanya kepada Allah. Sesaji yang digunakan untuk mengucap syukur diganti dengan memberikan makanan kepada warga untuk tujuan bersedekah. Berbagai kegiatan ritual diubah dengan menambahkan bacaan doa yang diizinkan oleh Islam.

Peninggalan Sunan Kudus

Adapun berbagai jenis peninggalan dalam sunan Kudus, diantaranya ialah sebagai berikut:

1. Masjid Menara Kudus

Nama resmi masjid ini adalah Al Manar atau Al Aqsa Manarat Qudus. Terletak di Jl. Menara, Kauman, Pejaten, Jawa Tengah, dan Kudu. Desain masjid ini merupakan perpaduan antara Cina, Islam, dan Hindu. Meski masjid ini sudah ada sejak tahun 1549, namun tetap terlihat kokoh dan bagus karena perlu dirawat dan dirawat.

2. Keris dan Tombak

Kedua pusaka tersebut disimpan di Masjid Menara Suci dan dikunjungi setahun sekali, tepatnya di setiap Idul Adha. Ritual pemandian keris dan keris biasanya dilakukan oleh ahli waris yayasan masjid.

Nama ritual itu sendiri adalah “jaminan”. Tentang keris bernama Chintaka atau Cintoko berumur 600 tahun. Ritual tersebut biasanya dilakukan pada pagi hari dengan terlebih dahulu membaca tahlil, doa Iftitah, dan ayat Alquran secara bersamaan.

Kemudian mereka berziarah ke makam Sunan Kudus dan mengambil keris dari peti yang ada di area kuburan. Kemudian keris tersebut dicelupkan ke dalam air yang dibasahi ketan hitam, dibersihkan dengan air jeruk nipis, kemudian dikeringkan di atas ketan hitam.

3. Asmaradana

Asmaradana adalah lagu (lagu Jawa Kuno) tentang cinta (romansa). Dengan mediator lagu ini, Sunan Kudu menyebarkan agama islam dengan lirik lagunya yang memudahkan pemahaman masyarakat.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Biografi Sunan Kudus. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.