Biografi Sunan Muria (Sejarah, Asal Usul, Peninggalan, Mitos)

4 min read

Biografi Sunan Muria

Biografi Sunan Muria – Ketika telah mendengar kata Walisongo, sembilan orang kudus Tuhan muncul di benak saya. Salah satunya adalah Sunan Muria, seorang tokoh Islam yang berperan penting dalam menyebarkan Islam di masyarakat Budha dan Hindu.

Di masa lalu, angka ini biasa terjadi di berbagai bagian pulau Jawa. Beritakan dan rebut hati umat Hindu dan Budha untuk memeluk Islam. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyebarkan pengetahuan dan kesuksesan kepada mereka yang terlibat.

Keberhasilan Anda membuatnya menjadi seorang Muslim. Tokoh agama Islam masih dikenal dengan ajaran dan warisan sejarahnya.

Sunan Muria merupakan sekelompok anggota termuda Walisongo. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga. Karenanya cara dakwahnya sama dengan ayahnya, yaitu melalui seni.

Sunan Muria adalah seorang Sunan yang memiliki kesaktian dan kesaktian. Selain itu, ia juga memiliki cara dakwah yang lembut dan lembut yang bersumber dari ajaran ayahnya.

Biografi Sunan Muria

Sunan-Muria

Sunan Muria Maulana Raden Umar Said, anak dari Raden Mas Said. Ia bergelar Sunan Muria karena dimakamkan di dataran tinggi Muria di Jawa Tengah. Ia adalah anak dari Dewi Saroh, saudara dari Sunan Giri dan anak dari Syekh Maulana Ishak dengan Sunan Kalijaga. Nama depannya ialah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari lokasinya yang terakhir di lereng Gunung Muria, 18 kilometer sebelah utara Kota Suci.

Sebagian besar gaya dakwahnya didasarkan pada metode ayahnya Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan ayahnya, Sunan Muria lebih memilih tinggal di daerah yang jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Berbaur dengan publik sambil mengajarkan keterampilan bertani, berdagang, dan memancing menjadi favorit.

Sunan Muria sering digunakan sebagai mediator dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Ia dikenal sebagai sosok yang mampu memecahkan berbagai macam masalah, meski bersifat kompleks.

Solusinya harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa. Maulana Raden Umar Said berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga Kudus dan Pati. Salah satu hasil kelas seni tersebut adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Selain ayahnya, dia mengirim pesan lembut. Ia dikenal sebagai laki-laki yang mampu menyelesaikan berbagai macam masalah, sehingga sering dijadikan sebagai mediator dalam konflik internal di Kesultanan Demak.

Solusinya bisa diterima semua pihak. Selain itu, beberapa keahliannya adalah pertanian, perdagangan, dan perikanan. Dengan kepribadian yang baik, banyak orang menghormati mereka karena bisa bergabung dengan komunitas.

Perjalanan Hidup Sunan Muria

Sunan Muria adalah seorang Wali Songo yang lahir pada abad ke-15. Nama aslinya adalah Raden Umar Said atau dikenal sebagai Raden Said. Nama panggilannya adalah Raden Prawoto. Ia adalah putra Sunan Kalijaga dari dewi Sarah binti Maulana Ishak.

Mereka adalah tiga bersaudara dengan dewi Rakayuh dan dewi Sofiah. Maulana Raden Umar Said adalah cucu dari Maulana Ishak dan paman dari Sunan Giri. Kemudian ia menikah dengan Dewi Sujinah, yang tak lain adalah putri Sunan Ngudung. Kemudian dia menjadi saudara ipar Sunan Kudu.

Ini adalah versi utama dari dua pendapat bahwa Sunan Muria adalah anak dari Sunan Kalijaga. Seperti yang diceritakan Umar Hasyim dalam buku Sunan Muria yakni di antara fakta dan legenda terbitan 1985 di Menara Suci.

Pada versi kedua terdapat kitab berjudul Pustoko Darah Agung karangan R. Darmowasito yang menyebutkan bahwa Sunan Muria adalah anak dari Raden Usman Haji atau yang lebih dikenal dengan Sunan Ngudung. R. Darmowasito menyatakan bahwa Sunan Ngudung yang menikah dengan Dewi Sarifah memiliki empat orang anak, yaitu: Raden Umar Said, Sunan Giri II, Sunan Kudus, atau Raden Amir Haji dan Sunan Giri II.

Fakta Tentang Sunan Muria

Ada yang perlu dipahami mengapa Sunan Muria lebih memilih untuk menyalahkan kelas bawah, paling tidak karena dia mengikuti jejak ayahnya. Dalam ajaran Walisongo terdapat dua mazhab berbeda yang bersifat dakwah, yaitu:

  • Kelompok pertama yaitu: Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kudus. Kelompok ini tampaknya lebih moderat dalam hal mudah, mengajar, dan mereka menggunakan budaya dan tradisi yang ada.
  • Kelompok kedua yaitu: Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Derajat. Kelompok ini lebih memilih metode dakwah berdasarkan ajaran Alquran dan Sunnah sebagai pedoman bagi umat Islam pada umumnya.

Kelompok pertama yakni telah dikenal dengan aliran Tuban atau Abangan. Kelompok kedua disebut Sekte Putih atau Santri. Dalam praktiknya, kelompok kedua lebih dekat dengan bangsawan dan orang kaya. Namun, kelompok terbesar kedua lebih memilih menyasar masyarakat umum.

Tidak hanya Sunan Muria yang dikenal sebagai dakwah palsu, ia juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Ini terbukti kuat secara fisik karena ia sering mendaki dan menuruni Gunung Muria yang tingginya 750 meter. Setiap hari dia mondar-mandir menyebarkan agama Islam di masyarakat sekitar. Jika kami lemah, kami tidak dapat melakukan ini selama bertahun-tahun. Ia terus mengabar setiap hari hingga akhir hayatnya.

Sunan Muria memang dikenal sebagai mediator pada masa-masa sulit, terutama pada masa konflik internal di Kesultanan Demak 1518-1530. Seperti ayahnya yang Islamis, dia dikenal sebagai pria yang mampu melakukan berbagai tugas tetapi kompleks. Solusinya bisa diterima oleh kelompok yang bermusuhan.

Untuk itulah, Sunan Muria adalah salah satu Wali Songo yang terkenal dengan: Pria pemberani. Dia adalah seseorang yang kuat. Dia adalah seseorang yang berwibawa. Dia mahir memecahkan masalah. Ia juga memiliki orang-orang yang memiliki berbagai layanan.

Keistimewaan Dan Kesaktian Sunan Muria

Keahlian atau karomah Raden Umar Said adalah warisannya. Diantaranya adalah pelana kuda, yang sering digunakan oleh masyarakat di sekitar Gunung Muria saat musim panas.

Ritual meminta hujan disebut Guyang Cekathak, atau mandi pelana dari kompleks Masjid Muria sampai ke sumber Sendang Rejoso. Di sini pelana kudanya dicuci lalu disiramkan ke penduduk desa, lalu didoakan dan didoakan agar hujan. Akhiri dengan makan sayur, kari, ayam, dan dawet.

Selain itu, ada peninggalan lainnya yaitu satu tong air yang dipercaya dapat memberkati penyakit dan berguna untuk kecerdasan dalam minum.

Sunan Muria disebut-sebut sebagai guru yang kuat yang terlihat selama pernikahannya dengan Dewi Roroyono. Ia memiliki ilmu yang dapat mengusir serangan dari musuh. Hal ini terjadi ketika adiknya (Kapa) menculik Dewi Roroyono, yang kemudian menyerangnya dan menggunakan sihir utama. Namun, serangan itu melanda hingga Kapa tewas.

Peninggalan Sunan Muria dan Mitos di Belakangnya

Peninggalan-Sunan-Muria

Dulu, Sunan Muria meninggalkan sejumlah peninggalan yang masih dianggap sakral bagi masyarakat. Benda-benda ini memiliki mitos sehingga sering dianggap sakral. Warisan ini meliputi:

Bulusan Dan Kayu Adem Ati

Ada kura-kura kecil atau kadal dalam kehidupan yang diyakini sebagai tetesan manusia. Selain itu, ada juga pohon bernama Kayu Hati Adem yang dipercaya disakralkan oleh masyarakat sekitar. Ada tertulis bahwa kutu dan pohon tersebut menghilang dan dikembalikan pada tanggal 17 Agustus 1945, pada masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Pohon Jati Keramat Masin

Pohon tersebut berumur ratusan tahun dan terus berkembang dari keberadaannya hingga saat ini. Tidak ada yang berani menebang pohon jati keramat ini karena dianggap membawa sial atau musibah. Orang percaya bahwa pohon tersebut memiliki roh atau wali yang tidak dapat diganggu oleh siapapun.

Pari Joto

Pari Joto merupakan representasi dari dua buah yang disebutkan dalam Alquran dan Hadis. Diantaranya adalah lebah madu (An-Nahl) dan jintan hitam (Habbatussauda). Secara umum buah ini dikonsumsi oleh ibu hamil karena kandungan gizinya yang baik untuk janin. Kini buah ini sangat mudah didapat karena dikembangkan oleh perusahaan yang didirikan pada kemasan obat-obatan.

Pakis Haji

Dikenal dengan sebutan cycad (cycas) ialah tanaman yang dapat digunakan untuk mencegah pestisida yang merusak tanaman padi. Dan sampai hari ini digunakan oleh kalangan masyarakat.

Situs Air Gentong Keramat

Lubang air ini berada di dekat makam Sunan Muria. Biasanya peziarah ditawari kunci untuk membawa air tong suci. Namun, masyarakat percaya bahwa air ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Sunan Muria wafat pada tahun 1551 M dan dimakamkan di Kudus di kawasan Masjid Muria dan kini menjadi peninggalan sejarah. Keunikan ajarannya adalah pemanfaatan seni sehingga Islam mudah diterima di masyarakat. Sampai hari ini dia mengingat komunitas yang lebih besar, rupanya melalui kerumunan di Masjid Muria untuk sholat.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Biografi Sunan Muria. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.