Do’a Kafaratul Majelis Beserta Artinya (Keutamaan, #Shahih)

5 min read

Do'a Kafaratul Majelis

Do’a Kafaratul Majelis – Majelis Taklim merupakan adanya sebuah lembaga pendidikan agama nonformal yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Proses dalam pembelajaran terhadap majelis taklim mengarah pada pembentukan akhlak yang tinggi bagi gereja serta perwujudan rahmat bagi alam semesta.

Sebagai makhluk sosial, Anda harus mengisi aktivitas harian Anda dengan berbagai jenis pertemuan atau gathering sesuai kebutuhan. Berbagai pertemuan seperti belajar, bekerja atau mengoleksi menyarankan untuk berbuat baik.

Maka dari pertemuan seperti itu harus dimulai dan diakhiri dengan baik dan sesuai dengan syariat Islam, termasuk umat Islam dan umat Islam. Pada setiap pertemuan umat Islam diperintahkan untuk memulai dan diakhiri dengan doa yang merestui Allah SWT.

Majelis

Majelis taklim merupakan salah satu lembaga pendidikan informal yang bertujuan untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta akhlak yang tinggi bagi masyarakat serta menciptakan welas asih bagi alam semesta.

Majelis-Taklim

Dalam praktiknya, Do’a kafaratul majelis taklim termasuk dalam sebuah tempat paling luwes untuk pengajaran atau pendidikan Islam dan tidak terikat waktu. Majelis Taklim terbuka untuk semua kelompok umur, kelas sosial, lapisan, dan gender.

Waktu pelaksanaannya yang tidak dibatasi, siang, bisa pagi, sore atau malam. Di sini Anda bisa mengajar di rumah, masjid, mushalla dan gedung, halaman, aula, dan sebagainya. Selain itu, jemaah taklim memiliki dua fungsi sekaligus yaitu sebagai lembaga dakwah dan sebagai lembaga pendidikan nonformal.

Fleksibilitas majelis taklim menjadi kekuatan untuk bertahan dan menjadi lembaga pendidikan Islam yang paling dekat dengan umat (masyarakat).

Musyawarah bisa menjadi sarana interaksi dan komunikasi antara orang-orang berkuasa dan orang biasa yang mengamalkan agama dan antar anggota kalangan masyarakat tanpa dibatasi waktu dan ruang.

Hadits # 832

Hadits-832

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiranya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu,

‘SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK’

Artinya:
“(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). [HR. Tirmidzi, no. 3433. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih].

Hadits # 833

Hadits-833

Dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ketika di akhir (pertemuan) ketika beliau akan bangun dari majelis, ‘SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK’

Artinya:
“(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu). Lantas ada seseorang yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan ucapan yang belum pernah engkau ucapkan sebelumnya.’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah kafarat bagi dosa yang terjadi selama di dalam majelis.’ (HR. Abu Daud, Al-Hakim Abu ‘Abdillah dalam Al-Mustadrak dari riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan ia mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih). [HR. Abu Daud, no. 4859; Ahmad, 4:425. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].

Faedah Hadits

  • Dalam sebuah doa Kafaratul dibacakan di akhir dan bukan di awal pertemuan.
  • Doa Kafaratul majelis ini memiliki tiga isi, yakni
  • Menyucikan Allah dari berbagai cacat dan memuji Allah atas semua perbuatannya.
  • Untuk membangun uluhiyah hanya untuk Allah, tidak ada sekutu bagi Allah, ini adalah pemujaan yang sempurna kepada Allah dan pujian yang sempurna untuk-Nya.
  • Kembali beristighfar dan bertaubat terhadap Allah SWT.
  • Siapapun yang berdoa dalam pertemuan Kafaratul akan menghilangkan kesalahannya di sebuah Majelis.
  • Hukum Islam tidak datang dengan segera, tetapi dipenuhi sesuai dengan keadaannya.

Hadits # 834

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari suatu majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini, ‘ALLOHUMMAQSIM LANAA MIN KHOSY-YATIKA MAA TAHUULU BIHI BAYNANAA WA BAYNA MA’AASHIK, WA MIN THOO’ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAK, WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU ‘ALAYNAA MASHOO-IBAD DUNYAA. ALLOHUMMA MATTI’NA BI ASMAA’INAA WA AB-SHORINAA, WA QUWWATINAA MAA AHYAYTANAA, WAJ’ALHUL WAARITSA MINNAA, WAJ’AL TSA’RONAA ‘ALA MAN ZHOLAMANAA, WAN-SHURNAA ‘ALAA MAN ‘AADAANAAA, WA LAA TAJ’AL MUSHIBATANAA FII DIININAA WA LAA TAJ’ALID DUNYAA AKBARO HAMMINAA, WA LAA MAB-LAGHO ‘ILMINAA, WA LAA TUSALLITH ‘ALAYNAA MALLAA YARHAMUNAA’

Artinya:
“(Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu sebagai penghalang untuk bermaksiat kepada-Mu, ketaatan kami kepada-Mu sebagai jalan yang menyampaikan kami ke surga-Mu, dan keyakinan kami kepada-Mu sebagai penenang bagi kami atas musibah dunia yang menimpa. Ya Allah, berikanlah kenikmatan pada pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan pada kami selama Engkau memberikan kehidupan bagi kami, dan jadikanlah kenikmatan tersebut terus-menerus bagi kami. Balaskanlah dendam kami terhadap orang-orang yang telah menzalimi kami, menangkanlah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau menjadikan musibah pada kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar bagi kami, tidak menjadi tujuan ilmu kami, dan janganlah Engkau memberikan kekuasaan atas kami kepada orang yang tidak menyayangi kami [orang kafir, munafik, fasik dan zalim, pen.]).” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan). [HR. Tirmidzi, 3502. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih].

Faedah Hadits

Adapun berbagai jenis faedah lama sebuah hadis, diantaranya ialah sebagai berikut:

  • Hanya Allah SWT yang dapat mencegah seorang hamba melakukan perbuatan amoral dengan takut padanya.
  • Hanya Allah SWT yang memberi taufik dan petunjuk agar kita bisa taat. Oleh karena itu kita harus meminta pertolongan Tuhan agar dapat terus menerima Taufik.
  • Tak ada yang bisa masuk surga, tapi taat.
  • Dalam seorang hamba bisa menanggung malapetaka dunia hanya dengan kepercayaan dan keyakinan yang benar.
  • Sunnah menuntut agar nikmat tetap ada dan menggunakan nikmat ini dengan pengecualian tindakan amoralitas.
  • Diizinkan berdoa untuk orang-orang yang tidak percaya dan untuk membantunya dengan lebih baik dalam memecahkan masalah ini.
  • Bencana yang dialami hamba saya adalah bencana yang melanda agama.
  • Setiap orang yang asyik dengan dunia ini akan mengembangkan kecintaan terhadap dunia, akhirnya semangat mencari hingga terlupakan di akhirat. Setiap dalam sebuah langkah yang diambilnya akan membuatnya memikirkan dunia.
  • Allah SWT akan menguji hamba-hambanya jika mereka menolak agama sampai musuh dapat mengendalikan mereka. Karenanya, orang percaya dapat mengatasi musuh ini dengan berbuat baik dan berdoa.

Keutamaan Doa Kafaratul Majelis Sebagai Penutup

Kafaratul-Majelis

Doa Kafaratul merupakan doa yang diucapkan setelah silaturahmi selesai. Ada banyak keutamaan shalat dalam Islam serta sholat jamaah Kafaratul, yakni:

1. Penghapus Dosa

Dari Abu Barzah Al-Aslami dia berkata: Adalah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika dia ingin berdiri (meninggalkan) majelis untuk berdoa:

Artinya:
“Mahasuci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Lalu ada yang berkata: Ya Rasulullah, apa yang ingin kau katakan, kata-kata yang tidak pernah diucapkan sebelumnya? Dia menjawab, “Sebagai kafarah (penghapus) dari apa yang terjadi di jamaah”. “(HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Ahmad, dan lain sebagainya.)

2. Agar Ilmu dari Majelis Lebih Bermanfaat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda bahwa Nabi Shallallahu’ alaihi wa sallam bersabda:

Artinya:
“Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

3. Dimudahkan Jalan Menuju Surga

Artinya:
“Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).

4. Sunnah Rasul

Abu Hurairah berkata bahwa Muhammad – Damai dan Doa Tuhan pernah berkata, “Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiranya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu, ‘SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK’

Artinya:
“(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). [HR. Tirmidzi, no. 3433. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih].

5. Menguatkan Keimanan

Dalam Kafaratul menjadi salah satu cara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: “Jarang Rasulullah, damai dan berkah besertanya, bangkit dari jamaah sampai dia shalat dengan doa ini.

“Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari suatu majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini,

‘ALLOHUMMAQSIM LANAA MIN KHOSY-YATIKA MAA TAHUULU BIHI BAYNANAA WA BAYNA MA’AASHIK, WA MIN THOO’ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAK, WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU ‘ALAYNAA MASHOO-IBAD DUNYAA. ALLOHUMMA MATTI’NA BI ASMAA’INAA WA AB-SHORINAA, WA QUWWATINAA MAA AHYAYTANAA, WAJ’ALHUL WAARITSA MINNAA, WAJ’AL TSA’RONAA ‘ALA MAN ZHOLAMANAA, WAN-SHURNAA ‘ALAA MAN ‘AADAANAAA, WA LAA TAJ’AL MUSHIBATANAA FII DIININAA WA LAA TAJ’ALID DUNYAA AKBARO HAMMINAA, WA LAA MAB-LAGHO ‘ILMINAA, WA LAA TUSALLITH ‘ALAYNAA MALLAA YARHAMUNAA’

Artinya:
“(Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu sebagai penghalang untuk bermaksiat kepada-Mu, ketaatan kami kepada-Mu sebagai jalan yang menyampaikan kami ke surga-Mu, dan keyakinan kami kepada-Mu sebagai penenang bagi kami atas musibah dunia yang menimpa.

Ya Allah, berikanlah kenikmatan pada pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan pada kami selama Engkau memberikan kehidupan bagi kami, dan jadikanlah kenikmatan tersebut terus-menerus bagi kami.

Balaskanlah dendam kami terhadap orang-orang yang telah menzalimi kami, menangkanlah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau menjadikan musibah pada kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar bagi kami, tidak menjadi tujuan ilmu kami, dan janganlah Engkau memberikan kekuasaan atas kami kepada orang yang tidak menyayangi kami [orang kafir, munafik, fasik dan zalim, pen.]).” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan). [HR. Tirmidzi, 3502. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih].

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Do’a Kafaratul Majelis. Semoga ulasan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.