Insya Allah atau Insyaallah Bacaan Arab Beserta Fungsi Penggunaannya

2 min read

Insya Allah Arab

Insya Allah atau Insyaallah Bacaan Arab Beserta Fungsi Penggunaannya – Siapa yang tidak mendengar kata “Insya Allah”. Kata ini seperti kata-kata yang akan keluar ketika seseorang ditanya perihal kesiapan atau janji lainnya.

Hampir setiap orang Muslim mengatakan insya Allah. Walaupun jawaban ini merupakan jawaban aman dan sesuai tetapi kata ini tidaklah menjadi sebuah alasan atas janji yang asal-asalan. Mengapa demikian?

Kata Insya Allah tentunya memiliki arti yang sangat baik dan merupakan ajaran yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Tahukah kamu bagaimana penulisan Arab nya dan fungsi dari kata insya Allah? Berikut ini akan dibahas mengenai penulisan insya Allah dan fungsi kata ini. Simak terus ya.

Insya Allah Arab

Penulisan

Adapun berikut ini penulisan dari Insya Allah atau insyaallah:

اِ نْ شَآ ءَ اللهُ

Artinya: “Jika Allah menghendaki.”

Arti kata Insya Allah bisa juga apabila Allah berkehendak atau jika Allah mengizinkan.

Dalam KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, penulisan Insya Allah yaitu Insyaallah. Insyaallah memiliki arti ungkapan yang digunakan untuk menyatakan suatu janji atau harapan yang belum dipenuhi.

Meskipun begitu, masih banyak yang menuliskan dengan cara Insya Allah. Hal ini tidak mengganggu arti dari kalimat tersebut. Diperlukan konsistensi dalam penulisan insyaallah sehingga pada penulisan kata-kata seperti masyaallah pun sama. Apabila menulis kata insya Allah dipisah, maka menulis kata masya Allah pun dipisah.

Kata Insya Allah dalam Al Quran

Kata Insya Allah juga terdapat pada beberapa ayat yang ada di dalam Al Quran. Adapun berikut ini ayat-ayat yang dimaksud di antaranya yaitu:

a. Ketika Nabi Yusuf ‘alaihi sallam bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala akan memberikan keamanan kepada ibu dan bapaknya.

فَلَمَّا دَخَلُوْا عَلَىٰ يُوْسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوْا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللهُ آمِنِيْنَ

Artinya: “Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman.” (QS. Yusuf ayat 99)

b. Saat Nabi Ismail ‘alaihi sallam menyetujui perintah Allah Subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam, untuk menyembelihnya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

Artinya: “Maka saat anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku (Ismail) sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia (Ismail) menjawab: “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, jika Allah menghendaki kamu akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As Saffat Ayat 102)

c. Ketika Nabi Musa ‘alaihi sallam berkata perihal orang yang sabar.

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” (QS. Al Kahfi ayat 69)

d. Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mengizinkan para Rasul untuk memasuki Masjidil Haram.

لَقَدْ صَدَقَ اللهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّ ۚ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَاۤءَ اللهُ اٰمِنِيْنَ ۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ ۙ لَا تَخَافُوْنَ ۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath ayat 27)

e. Ketika Nabi Syu’aib ‘alaihi sallam akan menikahkan putrinya dengan Nabi Musa ‘alaihi sallam.

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu (Musa) dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu jika Allah menghendaki akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al Qasas ayat 27)

Fungsi

Segala sesuatu yang terjadi atau tidak terjadi merupakan kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Hal inilah yang menjadi landasan dari kata “Insya Allah”

Sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala firmankan,

لا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا. إِلا أَنْ يَشَاءَ اللهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

Artinya: “Dan jangan sekali-kali Engkau, wahai Rasul, mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku pasti mengerjakan ini besok pagi.” Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan aku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” (QS. Al Kahfi ayat 23-24)

Berdasarkan surat Al Kahfi ayat 23 dan 24, Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk mengucapkan kata “Insya Allah” untuk segala sesuatu yang belum pasti terjadi. Karena kita tidak tahu kedepannya. Bisa saja semenit kemudian kita meninggal dunia atau sedang melakukan hal lain.

Kata Insya Allah digunakan ketika seseorang berjanji atau akan melakukan sesuatu di waktu yang akan datang. Melakukan segala sesuatu saat ini tidak perlu menggunakan kata Insya Allah.

Tapi nyatanya kata Insya Allah sering sialah fungsikan. Ketika seseorang berjanji, orang tersebut menggunakan kata “insyaallah” untuk menjawab janji itu. Dan janji tersebut merupakan janji yang tidak ingin ditepati atau tidak berkomitmen.

Baca Juga:

Demikianlah penjelasan mengenai kata Insya Allah yang telah dijelaskan secara detail lengkap dengan penulisan Arab dan fungsinya. Semoga artikel ini bermanfaat untk Anda sekalian. Terima kasih.

Waktu Mustajab dalam Berdoa

_pur
3 min read

Doa Belajar

Doa ibu
2 min read

Adab Mandi Wajib

Mandi wajib diartikan dengan cara menyiramkan air ke seluruh bagian tubuh dengan tata cara tertentu untuk menghilangkan hadas besar.
_pur
3 min read