Niat Puasa Safar (Bacaan Latin, Arab, beserta Artinya)

6 min read

Niat Puasa Safar

Niat Puasa Safar – Puasa yakni merupakan salah satu rukun Islam yang didukung oleh seluruh umat Islam. Seperti halnya sholat, terdapat hukum puasa yaitu wajib dan sunnah.

Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Ramadhan. Jadi, puasa wajib selama sebulan. Selain puasa di bulan Ramadhan, beberapa puasa lainnya diwajibkan. Mereka adalah Qadha cepat, Kafarat cepat, dan Nazar cepat.

Selain puasa wajib, ada juga 9 puasa sunnah bagi umat Islam. Mulai dari puasa Asyura (10 Muharram) hingga puasa Ayyamul Bidh.

Puasa adalah amalan yang diajarkan oleh Islam. Puasa artinya pantang dalam bahasa. Dari segi hukum Islam, puasa menghindari berbagai hal yang bisa dibatalkan.

Puasa yang telah dimulai dari subuh (subuh) hingga terbenam (magrib) diiringi dengan niat untuk berdoa kepada Tuhan. Puasa merupakan salah satu ibadah yang amalannya termasuk ibadah sederhana.

Mudlayyaq merupakan anda hanya bisa berpuasa sekali dalam satu waktu. Artinya, saat hari puasa dari pagi hingga sore hari. Anda hanya bisa berpuasa sekali dalam sehari. Tidak ada yang berpuasa kecuali sehari, karena hanya mungkin berpuasa sesekali.

Ini berbeda dengan doa. Ketika sholat, biar sholat sholat, dimulai, sholat Islam mungkin menunaikan Subuh Qabliyah terlebih dahulu.

Saat Anda memasuki masjid, Anda bahkan dapat melakukan sholat Tahiyatul di masjid. Setelah wudhu, Anda juga bisa melakukan shalat sunnah untuk wudhu. Beberapa shalat bisa dilakukan pada satu waktu fajar. Puasa berbeda. Waktu berpuasa dari pagi hingga sore.

Dulu, puasa hanya bisa dilakukan dengan cepat. Tidak ada lagi puasa setelah atau sehubungan dengan itu. Makanya, puasa disebut ibadah muwassa (waktu ekspansif).

Puasa Sunnah

Berikut ialah contoh dalam puasa sunnah, diantaranya ialah sebagai berikut:

a. Puasa Syawal

Puasa Syawal adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Ini seperti perkataan Nabi di bawah ini.

Nabi Muhammad SAW berkata:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa setahun.” (HR.Muslim).

Hadits di atas yakni telah menegaskan bahwa puasa di bulan Ramadhan dan kemudian sunnah puasa enam hari di bulan Syawwal adalah seperti puasa selama setahun. Karenanya, puasa Syawal bagaikan panen yang bermanfaat karena keutamaannya yang luar biasa.

Puasa di Syawwal bisa dilakukan selama enam hari panjang di bulan Syawal. Ada juga yang membolehkannya dilakukan secara berturut-turut selama enam hari di bulan Syawal.

Patut diperhatikan bahwa puasa Syawal dilakukan di bulan Syawal, kecuali pada tanggal 1 Syawal, karena puasa dilarang pada hari itu.

Niat Puasa Syawal

Niat-Puasa-Syawal

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatis Syawwali lillahi ta‘ala”.

Artinya:
“Saya niat berpuasa sunnah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala”.

b. Puasa Arafah

Puasa Arafah merupakan puasa sunnah yang dilakukan pada hari Arafah. Hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah yakni sebagai puasa sunnah dianjurkan karena membawa manfaat yang besar, yaitu melanggar dosa tahun lalu dan tahun nanti ndatang.

Rasulullah bersabda:

Hadis-Arafah

Artinya:
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang.” (HR.Muslim).

Dengan berdasarkan hadits di atas, puasa Arafah merupakan puasa sunnah khusus. Oleh karena itu, umat Islam harus menjalankan puasa Arafah saat tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Pada hari Arafah, mereka yang menunaikan ibadah haji berkorespondensi dengan Wukuf di wilayah Arafah. Sementara itu, disarankan bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji ke Arafah agar berpuasa untuk mencapai sifat luar biasa ini.

Niat Puasa Arafah

Niat-Puasa-Arafah

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Arafah lillahi ta‘ala”.

Artinya:
“Saya niat berpuasa sunnah Arafah esok hari karena Allah Ta’ala”.

c. Puasa Asyura

Puasa Asyura merupakan puasa pada tanggal 10 Muharram. Seperti namanya, Asyura adalah kata Arab yang artinya 10. Artinya, puasa dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram (bukan pada hari ke 10 kecuali Muharram).

Bulan Muharram adalah bulan yang mulia. Sebagaimana diketahui dalam hukum Islam, bulan-bulan gemilang adalah Dzulqa’dah, Muharram, Dzulhijjah, dan Sya’ban.

Sementara itu, pahala akan berlipat ganda seiring berlalunya bulan untuk perbuatan baik. Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram merupakan puasa yang jatuh pada bulan kemuliaan.

Rasulullah juga rajin berpuasa untuk berpuasa Asyura. Hal ini sejalan dengan penuturan Ibnu Abbas Ra, beliau berkata:

“Aku tidak pernah melihat Nabi Saw bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari Asyura dan pada satu bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Sementara manfaat puasa Asyura yakni menghilangkan dengan segala dosa setahun yang lalu.

Nabi berkata:

“Puasa hari Asyura , sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR.Muslim).

Niat Puasa Asyura

Niat-Puasa-Asyura

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatil asyura lillahi ta‘ala”.

Artinya:
“Saya berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah Ta’ala”.

d. Puasa Sunnah Syaban

Itu adalah bulan Dzulhijah, Dzulqa’dah, dan Muharram. Bulan Sya’ban juga merupakan kesenangan yang luar biasa karena Allah meningkatkan pahala untuk amal baik selama bulan itu.

Rasulullah juga sering mengisi bulan sya’ban dengan puasa sunah. Padahal, di bulan Sya’ban, Rasulullah lebih banyak berpuasa sunnah Syaban dibanding bulan lainnya.

Ini sejalan dengan penuturan Aisha Ra, katanya:

“Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka sampai kami katakana bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Niat Puasa Syaban

Niat-Puasa-Syaban

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Sya‘bana lillahi ta‘ala”.

Artinya:
“Saya berniat puasa sunah Sya‘ban esok hari karena Allah Ta’ala”.

e. Puasa Sunnah Senin Kamis

Puasa dalam setiap Senin dan Kamis merupakan jenis puasa yang populer di masyarakat. Bahkan secara umum ia hanya mengetahui bahwa puasa pada hari Senin dan Kamis adalah puasa sunnah.

Jika tidak mengetahui apa itu sunnah puasa selain senin dan kamis. Hal ini menunjukkan bahwa sunnah jenis ini merupakan sunnah yang sangat populer di masyarakat.

Namun puasa Senin dan Kamis tidak termasuk Istikhamah cepat dan mudah. Banyak orang merasa tidak tahan untuk bersikap ramah (rutin) bahkan selama setahun.

Intinya, puasa pada hari Senin dan Kamis dianjurkan sebagai sunnah Nabi. Dia juga berpuasa secara teratur dari Senin hingga Kamis.

Nabi berkata:

“Berbagai amalan dihadapan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR.Titmizi).

Dalam hadits tersebur, Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa hari Senin dan Kamis adalah hari-hari perilaku manusia. Alasan Rasulullah adalah mudah seperti itu ketika dihadapkan pada amalan saat mereka siap.

Puasa pada hari Senin dan Kamis dianjurkan sebagai puasa khusus. Selain itu, perbuatan baik juga bermanfaat karena pasti ada pahala yang besar. Dan puasa Senin hingga Kamis adalah puasa sunah yang istimewa.

Amalan Sunnah Di Bulan Safar yang Istimewa

Adapun berbagai jenis amalan sunnah di bulan safar ini, diantaranya ialah sebagai berikut:

1. Senantiasa Berdizikir Kepada Allah Ta’ala

Prioritas dzikir juga besar. Berzikir bisa mengukur timbangan di masa depan, mendatangkan pahala dan disayangi oleh Allah Ta’ala.

“Aku membaca subhaanalloh wal hamdulillah walaailaaha illallohu wallohu akbar (maha suci alloh,segala puji bagi alloh, tiada tughan yang berhaq diibadahi selain alloh dan alloh maha besar).Bacaan itu lebih aku sukai daripada mendapat kekayaan sebanyak apa yang dibawah sinar matahari.”(HR.Muslim)

“Ada dua kalimat yang dicintai oleh Allah, ringan di lisan dan berat di timbangan: (yaitu bacaan) subhaanallah wabihamdihi subhaanallahil adzim.” (HR Bukhari).

“Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: subahanallah wa bihamdihi seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim)

2. Mengerjakan Sholat Sunnah di Rumah

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Keutamaan shoat seorang laki-laki di rumahnya dengan shalat yang dilihat oleh orang banyak seperti halnya keutamaan shalat fardhu atas shalat sunnah.” (HR. Baihaqi).

3. Sholat Dhuha

“Ada tiga ratus enam puluh sendi dalam tubuh manusia yang semuanya harus menerima sedekah.” Dia (seorang teman) bertanya, “Siapa yang bisa melakukan ini, ya Nabi?”

Dia menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud).

4. Sholat Sunnah Syuruq di Masjdi Bagi Laki-Laki

Shuruq sholat adalah sholat yang dilakukan di masjid setelah sholat subuh di tengah masyarakat dan kemudian duduk untuk mengaji. Anda kemudian akan bangun saat matahari terbit untuk melaksanakan shalat Syuruq 2 rakaat. Shuruq bagi wanita tidak hanya memiliki manfaat bagi pria yang melakukan shuruq, tetapi juga banyak manfaat bagi mereka yang melakukan shuruq.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Anas ibn Malik: “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk di masjid sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka dia mendapat pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna.” (HR. At Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al Albani).

5. Sholat di Posisi Shaf Pertama

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya membacakan shalawat kepada orang-orang yang ada di shaf pertama.” (HR. Ahmad).

6. Membaca Al-Quran

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka dia mendapat satu pahala kebaikan. Dan setiap satu pahala itu dilipatkan menjadi 10 kali.” (HR. At Tirmidzi dan At Thabrani).

Bagi orang yang gemar membaca Alquran, banyak manfaatnya membaca Alquran, apalagi jika mengetahui ayat Alquran tentang tanggung jawab dan ayat Alquran yang mana tentang cinta. Ayat-ayat ini membantu kita untuk lebih memahami cinta Allah SWT bagi kita semua.

7. Sholat Berjamaah di Masjid

Dari Abu Umamah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang keluar dalam keadaan suci, menuju masjid untuk melaksanakan shalat jamaah, maka pahalanya seperti pahala seperti orang yang sedang haji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud).

Ada banyak keistimewaan bagi mereka yang lebih memilih shalat di masjid di paroki, seperti prioritas shalat Ashar berjamaah yang menawarkan banyak pahala, salah satunya bisa pahala 27x lipat dua kali lipat dari shalat itu sendiri.

8. Bersholawat Kepada Rasul

“Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat.” (HR. An Nasai).

“Barang siapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

9. Sedekah

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan maksiat maka dia mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Keutmanaan dalam sedekah menurut Islam sangatlah penting. Donasi tidak membutuhkan biaya banyak. Yang terpenting adalah niat.

“Tidak seorangpun yang menyedekahkan hartanya yang halal dimana Allah menerimanya dengan kananNya (dengan baik), walaupun sedekahnya itu hanya sebutir kurma. Maka kurma tersebut akan bertambah besar di tangan Allah Yang Maha Pengasih, sehingga menjadi lebih besar daripada gunung. Demikian Allah memelihara sedekahmu, sebagaimana halnya kamu memelihara anak kambing dan unta (semakin hari semakin besar).” (HR. Muslim).

“Jauhilah neraka walupun hanya dengan (sedekah) sebiji kurma, kalau kamu tidak menemukan sesuatu, maka dengan omongan yang baik.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim.)

“Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah bagimu.”(HR. Bukhari).

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Imam Tirmidzi).

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Niat Puasa Safar. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.