Pernikahan Beda Agama Menurut Islam (Lengkap beserta Penjelasannya)

5 min read

Pernikahan Beda Agama

Pernikahan Beda Agama – Pernikahan adalah salah satu prosesi paling sakral di jalan kehidupan manusia. Pernikahan juga diartikan sebagai pencapaian seumur hidup. Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk pergi ke bahtera secara harmonis.

Belum lama ini pernikahan beda agama menjadi pembicaraan di media sosial. Berdasarkan pemberitaan dari negara mayoritas muslim Tunisia yang telah mencabut larangan nikah beda agama, khususnya perempuan muslim yang menaiki perahu nikah dengan laki-laki non muslim.

Kalau dipikir-pikir, pernikahan beda agama bukanlah fenomena baru dalam perjalanan manusia. Padahal, ada cerita di kitab suci tentang pernikahan beda agama. Akan menjadi masalah jika kita, sebagai religius, tidak bisa menafsirkan kepemimpinan agama setiap hari.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Departemen Komunikasi, Masduki Baidlowi, dan Informasi Majelis Ulama Indonesia, mengatakan.

“Kalau dalam perspektif Islam, laki-laki Muslim boleh menikah dengan yang tidak beragama Islam. Yang tidak boleh (ialah) perempuan (beragama Islam) menikahi pria yang tidak (beragama) Islam,” perkataan Masduki kepada Tagar pada Rabu 17 Juli 2019.

Selanjutnya Masduki memberikan jawaban tentang perkawinan beda agama dalam konteks Indonesia. “Dalam konteks Indonesia, cara pandang hanya kembali pada ajaran agama, kembali pada ajaran agama masing-masing,” kata Masduki.

Menurut Masduki, aturan dan aturan nikah beda agama dalam Islam tertulis dalam Alquran dan Hadits. Muslim diijinkan menikahi wanita yang bukan Muslim. Dalam Alquran ada di Sura Al-Maidah ayat 5, di mana dikatakan:

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”

Sementara itu, perempuan muslim dilarang menikah dengan laki-laki non muslim, sebagaimana tertuang dalam Alquran Surat Al-Mumtahanah ayat 10.

“Apabila kamu telah mengetahui bahwa wanita-wanita mukminah itu benar-benar beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami) mereka yang kafir. Wanita-wanita muslimah itu tidak halal (dinikahi) oleh lelaki-lelaki kafir, dan lelaki-lelaki kafir itu tidak halal (menikahi) wanita-wanita muslimah.”

Bagi mereka yang memelihara agama, tentunya nilai, prinsip, dan perilaku sangat penting.

Nikah

Pernikahan-Beda-Agamaa

Pernikahan merupakan salah satu bentuk ibadah terpenting dalam persatuan komunitas dan masyarakat Muslim. Pernikahan bukanlah satu-satunya cara untuk membangun rumah dan mewariskan keturunan.

Pernikahan juga dipandang sebagai cara untuk memperkuat persaudaraan Islam dan untuk memperluas serta memperkuat hubungan antar manusia. Secara etimologis, nikah dalam bahasa Indonesia berasal dari kata nikah yang kemudian diberi awalan “per” dan berakhiran “an”.

Perkawinan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah kesepakatan antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi suami istri. Perkawinan dalam Islam juga terkait dengan makna mahram (membaca orang asing dalam Islam) dan wanita yang dilarang menikah.

Pengertian Menurut Etimologi

Bebrayan didasarkan pada Alquran dan Hadis dan berasal dari kata azziwaj dan an-nikh, yang berarti pergi, pergi, lurus, naik dan bersetubuh atau bersetubuh. Sebaliknya, Bebrayan juga berasal dari kata Adh-dhammu yang artinya meringkas, menyatukan dan mengumpulkan serta bertindak dengan baik.

Perkawinan berasal dari kata aljam’u yang artinya silaturahmi atau arisan. Nikah resmi disebut (زواج), (نكاح) keduanya berasal dari bahasa Arab. Perkawinan dalam bahasa Arab memiliki dua makna, yaitu (الوطء والضم) baik makna literal (ال (م) yang tumpang tindih atau semprot, dan makna dalam metafora (الوطء) adalah jodoh atau jenis kelamin.

Dasar Hukum Pernikahan

Seperti ibadah lainnya, pernikahan memiliki usulan konstitusional dasar dari umat Islam. Hukum dasar pernikahan didasarkan pada Alquran dan Hadis sebagai berikut:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Q.S. An-Nisaa’ : 1).”

”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu,dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian- Nya) lagi Maha mengetahui” .(Q.S. An-Nuur : 32)

Dan salah satu tanda kekuatannya adalah bahwa dia menciptakan wanita seperti Anda untuk bersandar dan merasa damai dengannya, dan dia akan mencintai Anda dan membuat Anda dicintai. Memang pertanda bagi orang yang berpikir. (Q. S. Ar-Ruum: 21).

“Wahai pemuda yang berbudi luhur di antara kalian, nikahi; karena Bebrayan lebih rendah hati dan lebih melindungi aurat. Sedangkan bagi yang tidak bisa menikah, bersiaplah; karena puasa adalah peredam (orgasme).”

Hukum Pernikahan

Di Islam, hukum perkawinan telah disesuaikan dengan kondisi atau situasi di mana ia akan menikah. Inilah hukum pernikahan menurut Islam

  • Wajib, jika orang tersebut mempunyai kemampuan untuk menikah, dan jika ia tidak menikah, tergelincir dapat bertindak.
  • Sunnah, adalah untuk orang-orang yang memiliki rumah tangga yang kokoh, tetapi jika Anda tidak menikah, mereka tidak akan tertipu
  • Mubah, jika mereka hanya menikah terlepas dari hak mereka sendiri dan menghindari percabulan, mereka hanya menikah dengan kesenangan apa pun sebagai tambahan
  • Makruh, jika dia memiliki keutamaan bisa menikah dan menghindari perzinahan, tetapi tidak memiliki keinginan untuk menikah. Anda diserahkan kepada istri dan anak-anak Anda karena takut hal itu dapat membahayakan
  • Haram, jika seseorang tidak mempunyai sebuah keutamaan untuk menikah dan khawatir pernikahannya akan ditinggalkan atau istrinya tidak dapat memenuhi kewajiban suaminya dan sebaliknya, maka istri tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada suaminya. Pernikahan adalah ilegal bahkan selama pernikahan mahram atau pernikahan darah.

Hukum Pernikahan Beda Agama

Masalah nikah beda agama tentunya menjadi topik perbincangan yang penting, tidak hanya di masyarakat setempat tetapi di banyak negara juga.

Di negara Indonesia, masalah ini menjadi perhatian serius para ilmuwan di tanah air. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang perkawinan beda agama pada muktamar kedua tahun 1980. MUI mengambil dua keputusan terkait pernikahan kedua agama tersebut.

Hukum-Pernikahan-Beda-Agama

Pertama, para ilmuwan di negara itu telah memutuskan bahwa perempuan Muslim dilarang menikah dengan pria non-Muslim. Kedua, laki-laki dilarang menikahi perempuan yang bukan Muslim.

Perkawinan pria dan wanita Muslim dari kitab tersebut sebenarnya berbeda pendapat. “Setelah MUI menilai Mafsadat lebih besar dari Maslahat, MUI menyatakan bahwa perkawinan itu haram,” kata Prof. Hamka, pengurus MUI Munas II, dalam fatwa tersebut.

Dalam memilih fatwa, MUI menggunakan Alquran dan Hadis sebagai dasar hukumnya. “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka beriman (masuk Islam). Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan wanita orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, meskipun ia menarik hatimu.”(QS: al-Baqarah:221).

Selain itu, MUI termasuk dalam menggunakan Alquran Surat al-Maidah ayat 5 dan At-Tharim ayat 6 sebagai bukti. Sedangkan hadits yang digunakan sebagai bukti, kata-kata Nabi SAW diriwayatkan oleh Tabrani adalah: “Barang siapa telah kawin, ia telah memelihara setengah bagian dari imannya, karena itu, hendaklah ia atkwa kepada Allah dalam bagian yang lain.”

Nahdlatul Ulama (NU) juga mengeluarkan fatwa terkait nikah beda agama. Fatwa tersebut akan ditetapkan pada Kongres ke-28 di Johannesburg pada akhir November 1989. Para ulama Fatwa NU menyatakan bahwa perkawinan mereka antara dua orang yang berbeda agama di Indonesia batal.

Sementara itu, Dewan Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga telah membuat fatwa nikah beda agama. Para ulama menguraikan bahwa wanita Muslim tidak diperbolehkan menikah dengan pria yang bukan Muslim. Hal ini sejalan dengan Surat al-Baqarah ayat 221 sebagaimana disebutkan di atas.

“Berdasarkan ayat tersebut, laki-laki Mukmin juga dilarang nikah dengan wanita non-Muslim dan wanita Muslim dilarang walinya untuk menikahkan dengan laki-laki non-Muslim,” kata ulama Muhammadiyah terhadap fatwa tersebut.

Muhammadiyah juga menegaskan bahwa perkawinan beda agama juga dilarang dalam agama Kristen. Kesepakatan alam Ulangan 7:3, umat Kristiani juga melarang pernikahan dengan agama lain. “Dalam UU No 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 juga disebutkan bahwa: ”Pernikahan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.”

Jadi kriteria sahnya nikah merupakan hukum agama apapun yang dianut oleh kedua mempelai, kata ulama Muhammadiyah dalam sebuah fatwa. Menurut Muhammadiyah, perkawinan beda agama yang tercatat di Kantor Catatan Sipil masih batal karena perceraian Islam. Ini dianggap sebagai pengaturan administratif.

Diakui Muhammadiyah, ada perselisihan tentang laki-laki muslim yang boleh menikahi perempuan non-muslim berdasarkan Surat al-Maidah ayat 5. “Namun, hendaknya pula dilihat surah Ali Imran ayat 113, sehingga dapat direnungkan ahli kitab yang bagaimana yang dapat dinikahi laki-laki Muslim,” kata ulama Muhammadiyah.

Dengan banyak hal, kata ulama Muhammadiyah, menikah dengan seorang perempuan yang menjadi penulis buku untuk laki-laki Islam, menyebabkan banyak kerugian. “Maka, pernikahan yang demikian juga dilarang.” Abdullah ibn Umar RA juga melarang pria Muslim menikahi seorang perempuan non-Muslim.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Pernikahan Beda Agama. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.