Sejarah Berdirinya Agama Islam di Indonesia (Terlengkap)

4 min read

Sejarah Berdirinya Agama Islam

Sejarah Berdirinya Agama Islam – Islam yakni termasuk dalam salah satu agama resmi di Indonesia dan satu-satunya agama yang diterima secara luas oleh masyarakat. Meski agama ini bukan agama pertama yang masuk ke Indonesia, pengaruh Islam nampaknya lebih besar.

Ingin tahu kisah kelahiran Islam? Islam dikenal sebagai Agama Surga atau Agama Surga yang dibawa Nabi Muhammad SWT atas perintah Allah SWT. Kata “Islam” juga memiliki arti yang berasal dari kata Arab “Aslama” yang berarti “aman”. Selain itu, Islam juga berarti perdamaian dan keamanan berdasarkan ketaatan kepada Allah SWT.

Sejarah Berdirinya Agama Islam

Islam yakni pertama kali diperkenalkan ke Indonesia pada masa Dinasti Umayyah ketika basis perdagangan didirikan di pantai barat Sumatera. Saat itu, Indonesia yang dikenal sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah sangat sibuk dengan pedagang dari seluruh dunia.

Pedagang muslim juga datang ke Indonesia untuk melakukan aktivitas perdagangan. Ini telah terjadi selama ratusan tahun. Namun ada pendapat lain tentang sejarah Islam di Indonesia.

Dalam konteks ini, ada yang mengatakan bahwa Islam pertama kali dibawa oleh 9 wali atau yang disebut dengan Wali Songo. Diketahui bahwa Islam sendiri pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi.

Sebelum Islam masuk ke Indonesia, ada beberapa agama yang datang lebih dulu. Agama yang dianut adalah Hindu dan Budha yang merupakan kepercayaan masyarakat Indonesia.

Islam pertama kali lahir di dunia Arab, di mana ia datang sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi di akhir zaman dan diangkat sebagai utusan oleh Allah SWT. Setelah itu Nabi Muhammad juga menyebarkan Islam di antara semua orang Arab.

Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabi’ul, awal tahun gajah, atau 20 April 571 di Mekkah. Dia adalah seorang yatim piatu dengan ayahnya bernama Abdulla bin Abu Muttalib, yang meninggal saat berdagang. Saat itu, nama ibunya adalah Aminah binti Wahab yang meninggal saat berusia 7 tahun.

Di usia 40 tahun, Nabi Muhammad sering sendirian dan tidur di gua Hira. Sampai akhir Ramadhan tanggal 17 HH atau tanggal 6 Agustus 611 beliau didatangi oleh malaikat Jibril yang datang untuk membawakannya wahyu pertama dari Allah SWT: “Bacalah (sebutkan) nama Tuhanmu yang menciptakan. “(QS. 96: 1-5). Dengan wahyu ini, Nabi Muhammad SAW terpilih menjadi rasul oleh Allan SWT.

Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam Menyebarkan Islam

Dalam rasul pilihan, Nabi Muhammad memiliki kewajiban untuk menyebarkan Injil dan memberitakan kebenaran kepada semua orang di dunia. Sejak itu, Nabi Muhammad SAW bertekad untuk menjalankan tugasnya dan menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia.

Awalnya, dia seharusnya mengembalikan kepercayaan ini kepada orang-orang yang paling dekat dengan rahasia mereka. Perlahan-lahan tuduhan itu bermula secara terbuka dan dari tuduhan itu ada yang diterima dan ada juga yang dikritik keras. Tantangan besar datang dari bangsanya sendiri, suku Quraisy.

Konflik tersebut mengakibatkan kekejaman terhadap umat Islam dan risiko kematian. Nabi Muhammad SAW pindah dari Mekah ke kota Yastrib (yang kemudian diubah menjadi Madinah). Di sana Nabi Muhammad lebih diterima di mana banyak pengikut Yastrib mau menerima agama yang dia ajarkan. Strategi dakwaan terhadap Muhammad SAW adalah sebagai berikut:

a. Menanamkan Iman Pada Sahabat

Nabi Muhammad SAW memperkenalkan Tauhid kepada teman-temannya dan pada umumnya dasar penciptaan manusia adalah menyembah Allah SWT. Tujuan dari ajaran adalah agar ada orang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa yang harus mengamalkannya setiap hari termasuk melindungi kepentingan agama dan membela Islam. Niat ini membuat para pengikut Nabi Muhammad SAW siap berkorban untuk membela Islam.

b. Manfaatkan Potensi yang Ada

Nabi Muhammad SAW memanfaatkan potensi manusia dalam dakwah secara efektif. Salah satu pilihannya adalah menikahi Khadijah dan mengundang pamannya yang kaya untuk menggalang dana untuk penegakan hukum.

Selain itu, rasul juga memiliki teman-teman yang berpengaruh besar pada suku Quraisy. Ini adalah penolong dan melindungi para rasul dalam perang. Nabi Muhammad SAW juga memanfaatkan potensi intelektual teman-temannya untuk mendapatkan manfaat dari penyebaran Islam seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid ibn Thabit dan Abdullah ibn Mas’ud.

Keunggulan diplomasi dan klaim Nabi Muhammad SAW mendorong umat Islam ke fase yang menentukan. Selama perang antara Madinah dan Mekah, banyak orang di Mekah yang sebelumnya menolak ajaran Islam menjadi Muslim.

c. Dakwa Secara Bertahap

Dalam dakwaannya, ia menggunakan tahapan dan strategi yang jelas di mana ia memulai dengan keluarganya sendiri sebelum menyebar ke lingkungan terdekat dan kemudian pindah lebih jauh ke luar.

Selain itu, sang rasul mengundang teman-teman terdekatnya di Quraisy untuk ambil bagian dalam penyebaran Islam. Nabi juga mengajarkan tentang nilai-nilai Islam dan bagaimana menjalankan ibadah secara bertahap, misalnya sholat, zakat, puasa, haji, sedekah, dan lain sebagainya.

Zaman Sebelum Datangnya Islam

Sebelum Islam datang ke dunia, khususnya di Timur Tengah, dunia Arab dikelilingi oleh dua kerajaan besar, yaitu Roma Timur di barat dan Persia di bagian timur. Wilayah Bizantium termasuk Suriah, Asia Kecil, Palestina, Mesir, Turki, dan sebagian benua Eropa.

Puncak kejayaan Romawi terjadi pada masa pemerintahan Justin (483-565 SM), di mana terjadi perang antara kerajaan Romawi Timur dan Persia. Perang dengan Persia melemahkan pengaruhnya sehingga jika Islam semakin kuat maka bisa digulingkan dan wilayahnya di bawah kekuasaan Islam.

Agama Kristen adalah agama utama yang berkembang di Kekaisaran Romawi pada saat itu, dan Kaisar Konstantin mengakui agama Kristen sebagai agama sah yang biasa dianut oleh masyarakat dan menjadikannya sebagai agama negara. Di Kekaisaran Persia, agamanya adalah Zoroastrianisme.

Kaisar Parwiz (590) adalah penguasa terakhir Kekaisaran Persia, yang menikmati kekuasaan, kekayaan, kemewahan, dan wanita Kristen. Kaisar Parviz juga merobek surat Nabi Muhammad dan mengusir utusan yang membawa surat tersebut. Pada masa pemerintahan Kaisar Yazdigard III (634-652), pasukan Muslim dari Arab berhasil menaklukkan Persia.

Saksi Sejarah Masih Ada Hingga Kini

Beberapa saksi sejarah penyebaran Islam di Indonesia ratusan tahun lalu dan hingga saat ini masih dimungkinkan untuk mengetahui keberadaan beberapa bangunan masjid.

Seperti yang kita ketahui bersama, masjid merupakan tempat ibadah bagi umat Islam yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Bangunan masjid tersebut terangkum dalam potret 8 masjid tertua dalam sejarah sejarah Islam di Indonesia.

Kedelapan masjid ini bisa kita lihat sebagai bukti sejarah Islam di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dalam hal jumlah penduduk.

Teori Sejarah Islam di Indonesia

Islam telah masuk dan berkembang di Indonesia sejak zaman dahulu kala. Berbagai teori telah dikemukakan oleh para sejarawan, yang didukung pula oleh adanya sejumlah fakta yang terkumpul.

Dilihat dari adanya sebuah proses dalam perkembangannya, ada tiga kategori yang mendasari penyebaran Islam di Indonesia. Ketiga teori tersebut meliputi:

a. Teori Gujarat

Ini adalah teori konversi Islam dari Gujarat ke India yang telah dikemukakan oleh para peneliti di Belanda. Dalam teori ini, Islam berarti datang ke Gujarat India dari orang Arab.

Di sana Islam Syafi’i mengembangkan dan mengajar orang-orang ini. Kemudian orang-orang dari Gujarat datang ke Indonesia yang sebelumnya memiliki hubungan dagang dengan Nusantara.

Dalam hal ini, Islam secara bertahap menyebar di kalangan pedagang. Oleh karena itu, Indonesia dan Gujarat memiliki sekolah yang sama dengan sekolah Syafi’i. Teori sejarah Islam di Indonesia juga diperkuat dengan batu nisan Sultan Malik Al Saleh yang memiliki kemiripan dengan batu nisan di Kambay Guajarat.

b. Teori Mekkah

Teori ini mengatakan bahwa di Indonesia, Islam memasuki migrasi abad pertama atau pertama pada abad ke-7 Masehi. Sarjana Buya Hamka mengklaim bahwa Islam berasal dari tanah Arab atau Mesir yang dibawa oleh para musafir Sufi.

Buya menulis dalam bukunya yang berjudul Uncovering Existence: Menjawab Tuduhan Wahhabi Salafi. Disebutkan, Gujarat hanyalah tempat singgah sementara para pedagang Arab sebelum akhirnya sampai ke Indonesia.

c. Teori Persia

P.A. Hosein Djajadiningrat menyatakan bahwa teori sejarah Islam di Indonesia berasal dari Persia karena banyak kesamaan antara Indonesia dan Persia dalam budaya Islam. Diantaranya adalah peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai peringatan syuhada Huesein di kedua negara.

Selain itu, penggunaan ejaan untuk membaca huruf Arab memiliki kesamaan antara bahasa Persia dan Indonesia. Kesamaan lainnya adalah ajaran Syekh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran Al-Hallaj yang dikembangkan melalui puisi.

Teori Persia tersebut yakni dapat menunjukkan bahwa Islam Persia berpengaruh terhadap perkembangan sekte Syafi’i yang dianut oleh umat Islam Nusantara.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Sejarah Berdirinya Agama Islam. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.