Sejarah Walisongo

4 min read

Sejarah Walisongo telah dikenal seorang yang telah menyebarkan agama Islam yang terbesar di wilayah Jawa dalam abad ke-14. Walisongo hidup di 3 daerah pada pulau jawa.

Walisongo telah berkhotbah di semua bagian dalam sebuah kepulauan negeri tersebut dengan mengundang pada kalangan masyarakat untuk masuk Islam tanpa paksaan.

Setiap khotbah, setiap Sunan (julukan dari walisongo) mempunyai sebuah wilayahnya sendiri, dan ada juga beberapa dalam sebuah peninggalan yang membuktikan adanya perannya dalam menyebarkan agama Islam.

Arti Walisongo

Terdapat beberapa dalam adanya sebuah pendapat tentang pentingnya sejarah Walisongo. Yang pertama ialah Guardian of Nine, yang menunjukkan adanya sejumlah penjaga yang ada dalam bahasa Jawa sembilan, atau sanga.

Pendapat lain adalah bahwa kata sanga atau songo yakni telah berasal dari sebuah kata tsana, yang artinya mulia dalam bahasa Arab. Pendapat lain ialah bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, yang artinya ruang atau tempat.

Pendapat lain, telah menyatakan bahwa seorang Walisongo merupakan seorang Dewan Dakwah, sejarah tersebut pertama kali telah didirikan pada 1404 oleh Sunan Gresik (808 Hijriah).

Walisongo merupakan pembaru dalam sebuah komunitas pada masanya. Pengaruh mereka dapat dirasakan dalam berbagai bentuk manifestasi peradaban Jawa yang baru, mulai dari pertanian, kesehatan, budaya, perdagangan, seni, masyarakat sampai pemerintah.

Biografi Walisongo

Peranan-Sejarah-Wali-Songo

Berikut adalah beberapa peran, sejarah, dan nama Walisongo dalam menyebarkan agam Islam di wilayah Indonesia, khususnya pada wilayah Jawa, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Sunan Ampel

Nama asli dari Sunan Ampel ialah Raden Rahmat. Secara umum, Sunan Ampel telah dianggap dengan orang suci lainnya sebagai wali. Pesantrennya yang terletak di Ampel Denta, tepatnya di wilayah Surabaya, yang termasuk dalam sebuah ajaran Islam yang tertua di wilayah Jawa. Ia menikah dengan seorang Dewi Condrowati, yang bernama Nyai Ageng Manila.

2. Sunan Bonang

Sunan Bonang telah lahir dalam tahun 1465 dengan sebuah nama aslinya yakni Raden Maulana Makhdum Ibrahim, merupakan seorang putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah nama desa di wilayah kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang disebut olehnya yakni Bong Ang, yang setuju dengan klan Bong, karena nama ayahnya adalah Bong Swi Hoo, juga dikenal sebagai Sunan Ampel.

3. Sunan Gresik

Maulana Malik Ibrahim yakni telah lahir di Campa (Kamboja), nama ayahnya ialah Barakat Zainul Alam, yakni merupakan seorang sarjana hebat di Maghrib. Maulan Malik Ibrahim disebut sebagai Sunan Gresik atau Syakh Maghribi atau Makhdum Ibrahim al-Samarqandi, dan masyarakat Jawa biasanya menyebutnya dengan sebutan Asmaraqandi.

4. Sunan Derajat

Sunan Derajat memiliki sebuah nama depan yang bernama Raden Qasim atau Syarifuddin, yang merupakan seorang putra bungsu dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, dan ia merupakan saudara dari Sunan Bonang. Sunan Derajat dikenal karena kecerdasannya. Ia menyebarkan ajaran Islam di wilayah Desa Paciran Lamongan.

5. Sunan Giri

Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq bersama Dewi Sekardadu, yakni merupakan seorang putri Menak Sembuyu, penguasa daerah Balambangan di ujung kerajaan Majaphit. Sayangnya kelahirannya dianggap sebagai kutukan oleh ayahnya Dewi Sekardadu, lalu dia dipaksa dengan ayahnya sebagai membuang anaknya ke dalam laut.

Sunan Giri telah menciptakan sebuah lagu yang berjudul Dolanan, yang dikenal sebagai Jelungan. Tidak hanya nyanyian dan tawa, tetapi ada juga pelajaran luar biasa dalam hal tauhid.

6. Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati mempunyai sebuah nama asli yang bernama Syarif Hidayatullah. Pada usia 20, Sunan Gunung Jati telah ditinggalkan dengan ayahnya. Setelah di tinggalkan oleh ayahnya, ia menjadi seorang raja Mesir sebagai menggantikan ayahnya. Namun dia menolak, dan memutuskan untuk menyebarkan ajaran Islam dengan ibunya di Jawa.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Gunung Jati tidak sendirian, ia didukung dengan para wali. Mereka biasanya memberi saran di Masjid Demak. Karena hubungannya dengan para santo dan santo di Demak, ia meminta Sunan Gunung Jati membangun kesultanan Pakungwati, yang kemudian ia nyatakan sebagai seorang raja dan diangkat sebagai sultan.

7. Sunan Kudus

Sunan Kudus tidak benar-benar datang dari Kudus, tetapi berasal dari Quds of Palestine, yang kemudian pindah ke Jawa dengan ayah dan kakeknya. Dalam cerita lain, Sunan Kudus adalah pendatang daerah Jipang Panolan, utara Blora.

Sunan Kudus termasuk senopati besar dari sebuah hasil karya Demak ketika ia menjabat sebagai Senopati dari kerajaan Majapahit dalam penaklukannya. Keberhasilan mengalahkan Majapahit memperkuat posisi Ja’far Sadiq, tetapi kemudian dia meninggalkan Demak karena dia ingin hidup mandiri dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk penyebaran Islam.

8. Sunan Kalijaga

Raden Said adalah seseorang yang peduli pada warga dan dekat dengan mereka. Ini ditunjukkan ketika dia membela warga di masa-masa sulit. Pada saat itu, pemerintah benar-benar membutuhkan sumber daya yang sangat besar untuk mengatasi roda pemerintahan, sehingga orang-orang biasa mau tidak mau harus membayar pajak yang tinggi.

9. Sunan Muria

Sunan Muria dalam menyebarkan sebuah ajaran Islam sambil melestarikan seni wayang dan gamelan sebagai sarana dakwah. Dia menciptakan dalam beberapa lagu sebagai mempraktikkan Islam. Dengan cara ini, Sunan Muria dikenal sebagai Sunan, yang suka mengabar topo ngeli. Sunan Muria telah dikenal sebagai orang yang mampu untuk menyelesaikan dengan berbagai masalah.

Peran Walisongo dalam Menyebarkan Ajaran Islam

Dalam beberapa sebuah peran dari Walisongo dalam menyebarkan sebuah ajaran Islam yang termasuk dalam sebuah peran perintis dalam menyebarkan agama Islam terhadap kalangan masyarakat yang belum tahu dalam ajaran Islam di daerah masing-masing, sebagai pejuang gigih dalam pertahanan dan pengembangan Islam dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang ahli di bidang Islam, sebagai pemimpin dalam Islam di setiap wilayah, yakni sebagai seorang guru agama Islam, yang terus-menerus mengajarkan Islam terhadap setiap para muridnya, sebagai menteri yang telah menguasai dalam sebuah ajaran Islam secara umum, dan untuk suatu kepribadian yang dihormati dalam persekutuannya.

Masjid Peninggalan Walisongo

Tidak hanya dalam propaganda terhadap kalangan masyarakat, tetapi Walisongo telah meninggalkan bebrapa bukti dalam sejarah yang masih dipertahankan, untuk ulasan sengkapnya, simak sebagai berikut:

Masjid Menara Kudus, didirikan oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 M, dibangun dengan gaya bangunan batu Palestina, Hindu Baitul Maqdis, dan terletak di Kota Suci.

  • Masjid Sang Cipta Rasa, pendirinya ialah seorang yang bernama Sunan Gunung Jati pada 1478 M, dengan letaknya di wilayah kabupaten Cirebon.
  • Masjid Agung Demak, yang didirikan oleh Raden Patah pada abad ke-15 M, dan terletak di sebuah desa Kauman Demak.
  • Masjid Sendang Duwur, konon masjid tersebut merupakan pertama kali dibawa dari Jepara ke Amitunon Lamongan Hill dalam tahun 1561 oleh Raden Noer Rahmad. Masjid ini memiliki suatu letak di wilayah Lamongan.
  • Masjid Agung Banten, yang pendirinya merupakan seorang yang bernama Sultan Maulana Hasanuddin dari tahun 1552 hingga 1570 Masehi. Dengan kekhasan, merupakan salah satu kubah seperti pagoda Cina yang telah ditumpuk.

Pengaruh Wali Songo dalam Budaya Nusantara

Walisongo tidak hidup pada waktu yang bersamaan, tetapi hubungan mereka seperti teman, saudara, guru, dan murid. Sejarah Maulana Malik Ibrahim merupakan sosok seseorang yang tertua, Sunan Ampel adalah seorang putra Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, yang juga keponakan Maulana Malik Ibrahim dan merupakan sepupu Sunan Ampel

Sunan Derajat dan Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, Sunan Kalijaga adalah murid dan teman Sunan Bonang. Sunan Muria adalah seorang putra dan Sunan Kalijaga, Sunan Kudus adalah seorang murid dari Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga adalah teman dari Sunan lainnya, dengan pengecualian Maulana Malik Ibrahim, karena ia meninggal pertama kali.

Mereka semua adalah sebagai seorang pembaru dalam sebuah komunitas dalam masanya, dapat memperkenalkan dengan berbagai bentuk peradaban baru, misalnya dalam pertanian, seni, perdagangan, budaya, masyarakat, kesehatan, dan pemerintah. Tetapi sebelum Islam memasuki nusantara, sudah ada banyak suku, bangsa, sosial, organisasi, budaya, dan ekonomi sudah berkembang.

Era Walisongo adalah sebuah era akhir dalam sebuah kerajaan Buddha Hindu dalam budaya Nusantara, yang dapat digantikan oleh budaya Islam. Pada saat itu, peran Walisongo sangat penting bagi penyebaran Islam di Jawa. Beberapa sebuah metode yang digunakan oleh Walisong ialah adanya akulturasi Islam dengan keberadaan budaya lokal nusantara pada waktu itu.

Baca Juga :

Demikian pembahasan kali ini, yang telah kami sampaikan secara jeals dan lengkap yakni mengenai Sejarah Walisongo. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat.