Sujud Tilawah

3 min read

Sujud Tilawah

Sujud Tilawah – Merupakan sebuah sujud yang dapat dilakukan saat mendengarkan atau membaca dalam suatu ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut ialah biasa disebut sebagai ayat sajdah.

Dalam Alquran, terdapat sebuah ayat dari ayat yang biasanya dikenali sebagai adanya suatu tanda baca tersebut, seperti dalam aksara Arab As-Sajdah di pinggir sesuai dengan ayat tersebut, atau adanya sebuah kubah kecil di bagian akhir dari ayat tersebut.

Sujud ini termasuk dalam sebuah gerakan isyarat sujud yang dapat dilakukan sambil membaca ayat-ayat sajadah dalam sebuah kitab suci Al-Quran tersebut.

Apa itu Ayat Sajadah ?

Ayat Sajadah merupakan sebuah ayat yang khusus dalam kitab suci Al Qur’an yang dapat dibacakan kepada si pembaca atau si pendengar dalam melakukan sebuah gerakan tilawah.

Contoh ayat sajadah ialah:

إِنإِ الَّذِينَ عِندَ رَبَكِّ لاَ يَسَتْكَبْرِونَ عَنْ عِبِادَتَهِ وَيُسُبَحِّونَهُ يَسَجْدَوُ

Artinya:
“Sesungguhnya, para malaikat yang bersama Tuhanmu tidak menolak untuk menyembah Tuhan, dan mereka memuliakan Dia, dan mereka membungkuk sendirian di hadapan-Nya”. (Al-a’raf : 206).

وَللَّهِ يَسَجْدُ مَن فِى السَّمَّاوَاتِ وَالاَْرَْ طَوطَعْاوَكَرَهًاوَظِلَالُهُم بِالْغُدْغُوُ وَالاَْال

Artinya:
“Semua hal di surga dan di bumi tunduk kepada Allah, baik dengan kehendak mereka sendiri atau dengan bayangan mereka sendiri (dan menekuk) di pagi dan sore hari”. (Ar-Rad : 15).

Bacaan Sujud Tilawah

Adapun dalam membaca sujud ini, yakni tidak seperti dalam bersujud biasanya. Karena terdapat berbagai nilai yang berbeda untuk tilawah yang dapat dibaca.

Bacaan Sujud Tilawah Lengkap

Bacaan-Sujud-Tilawah-Lengkap

“Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu bi khaulihi wa kuuwatihi fatabarakallahu ahsanul kholiqiin.”

Artinya:
“Wajahku menampakkan diri kepada Sang Pencipta yang menciptakan, mendengar, membentuk, dan melihatnya. Allah adalah rahmat terbaik Sang Pencipta.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim, Abu Dawud, dan nasa’i).

Arti dari doa sujud ini ialah untuk membuat wajah kita (diri) dengan Sang Pencipta yang menciptakannya. Kemudian dia membentuk dalam penampilannya dan memberikan sebuah penglihatan beserta pendengaran. Hal ini, telah menandakan adanya sebuah proses awal dalam penciptaan atau pembentukan manusia.

Bacaan Sujud Tilawah

Bacaan-Sujud-Tilawah

“Subhaana robbiyal a’laa”

Artinya:
“Kemuliaan bagi Allah Yang Mahatinggi”.

Arti dalam sujud ini merupakan bahwa Anda harus memuji Tuhan sebagai yang tertinggi, yang tertinggi dari nama-Nya, yang tertinggi dari kualitas-Nya dan yang tertinggi dari semua. Dia adalah yang paling agung, tertinggi dan paling agung dari semua ciptaan-Nya.

Ayat Sajdah

Ayat dalam Mushaf Alquran dapat dengan mudah dikenali dalam melihat ayat tersebut. Setiap dalam bentuk mosaik yakni mempunyai suatu penanda sendiri. Secara umum, memiliki sebuah bentuk yakni seperti monumen dengan ujung spiral. Ayat-ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  • Surah Ar-Ra’d [13]: 15
  • Surah As-Sajdah [32]: 15
  • Surah An-Nahl [16]: 50
  • Surah Al-Isra` [17]: 109
  • Surah Maryam [19]: 58
  • Surah Al-Hajj [22]: 18
  • Surah Al-‘Alaq [96]: 19
  • Surah Al-Furqan [25]: 60
  • Surah An-Naml [27]: 26
  • Surah Al-A’raf [7]: 206
  • Surah Al-Hajj [22]: 77
  • Surah Al-Insyiqaq [84]: 21
  • Surah Sad [38]: 24
  • Surah Fussilat [41]: 38
  • Surah An-Najm [53]: 62

Dalam sujud ini, yakni dapat dilakukan di luar sholat atau di dalam sholat. Arti dari dalam dan luar doa adalah bahwa sujud dapat dilakukan saat doa sedang dilakukan atau saat doa tidak dilakukan.

Keutamaan Sujud Tilawah

Contoh-Sujud-Tilawah

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

Artinya:
“Jika putra Adam membaca ayat doa dan membungkuk, iblis akan meninggalkannya dengan air mata. Bahkan iblis akan berkata,” Celakalah aku! Putra Adam harus membungkuk, dia membungkuk, dan kemudian surga di depannya. Ketika saya diperintahkan untuk bersujud, saya menolak, jadi saya pantas menerima neraka.” (SDM. Muslim No. 81)

Secara khusus prostat juga dijelaskan dalam hadits, yang berkaitan dengan sujud yang ditentukan pada umunya.

Dalam hadits mengenai Ru’yatullah (lihat Allah) ada hadits dari Abu Hurairah, nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَرْحَمَهُ مِمَّنْ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَيَعْرِفُونَهُمْ فِى النَّارِ يَعْرِفُونَهُمْ بِأَثَرِ السُّجُودِ تَأْكُلُ النَّارُ مِنِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ أَثَرَ السُّجُودِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ

Artinya:
“Sampai Allah mengatur kondisi di antara para hamba-Nya, Dia menghendaki dengan belas kasihan mereka yang Dia inginkan datang dari Neraka. Dia juga memerintahkan para malaikat untuk datang dari Neraka yang tidak ingin melarikan diri dari Tuhan.

Di antara mereka yang Allah inginkan adalah mereka yang mengatakan “laa ilaha illallah”. Para sang malaikat telah mengenal mereka yang berada di neraka melalui sujud mereka sebelumnya. Api akan melahap tubuh putra Adam kecuali yang sebelumnya. Allah yakni telah melarang terhadap neraka untuk melahap yang pertama.” (HR. Muslim No. 182 dan Bukhari No. 7437)

Dalam Shahih Muslim, An Nawawi telah mengacu pada bab “ibadah Arch dan dorongan dalam melakukannya”. Tsauban, mantan budak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bertanya kepada Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy tentang praktik yang akan membawanya ke surga atau praktik Allah yang paling dicintai.

Tsauban tetap diam sampai Ma’dan meminta untuk ketiga kalinya. Kemudian Tsauban berkata bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau telah bersabda:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Artinya:
“Tunduk di hadapan Tuhan. Sungguh, begitu Anda bersujud pada Tuhan, Allah akan menaikkan level Anda dan memperbaiki sebuah kesalahan-kesalahanmu.”

Ma’dan telah berkata, “Lalu saya bertemu yang bernama Abud Darda’ dan akan menanyakan hal yang sama terhadapnya. Abud Darda’ bahkan menjawab ketika Tsauban menjawabnya.” (HR. Muslim No.488)

Hadits lain yang telah menyebutkan prioritas ibadah adalah hadits Robi’ah bin Ka’ab Al Aslamiy. Dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang praktik yang akan membawanya lebih dekat ke surga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Artinya:
“Bantu aku (agar impianmu menjadi kenyataan) dengan berdoa lebih banyak (Sholat)”. (HR. Muslim dan Bukhari).

Syarat Sujud Tilawah

Terdapat berbagai syarat dalam sebuah sujud ini, diantaranya ialah sebagai berikut:

  • Membungkuk setelah membaca ayat Sajada atau mendengar sebuah ayat sajadah.
  • Di tempat suci (tubuh suci, tempat ibadah, dan pakaian).
  • Dapat menutup aurat.
  • Jika para biarawan membungkuk dalam doa di gereja, mereka harus mengikuti Imam untuk membungkuk. Hentikan keanggotaan di gereja jika Anda tidak tunduk.
  • Tatap muka (lebih disukai tatap muka).

Tata Cara Sujud Tilawah

Di luar doa, ketika seseorang mendengar atau membaca sebuah ayat dan harus membungkuk, yang harus mereka lakukan adalah memastikan bahwa mereka tidak yang terkontaminasi dan tidak mencemari dalam sebuah cara mereka untuk membersihkan sebuah kotoran.

Maka Anda harus menghadapi ke arah kiblat dan kemudian menaklukkan ihram dalam mengangkat kedua tangan. Setelah jeda singkat, ia berusaha berlutut tanpa mengangkat kedua tangan. Setelah melakukan sujud sekali dan kemudian berdiri sebentar tanpa membaca sepatah kata pun dan mengakhirinya dengan salam.

Apakah Anda harus berdiri di depan Anda membungkuk? Para ulama Syiahfi’iyah tidak setuju tentang hal ini. Syekh Muhammad, Qadli Husain dan yang lainnya lebih suka bersujud sebelum memulai dan berniat dari tribun.

Namun pendapat ini ditolak oleh Imam Haramain, dengan mengatakan, “Saya tidak melihat ini sebagai masalah politik dan pembicaraan.” Pendapat Imam Haromain dianggap sebagai pendapat yang lebih benar oleh Imam Nawawi dan karena itu dipilih untuk tidak tunduk.

Ketika dia bersujud dalam doa seperti setelah membaca ayat itu, dia membaca tanpa mengangkat tangannya untuk membungkuk sekali. Kemudian dalam bangun dari sujud dalam bangun dan terus berdoa.

Ketika syair yang dibacanya ada di tengah surat, ia terus membaca sampai selesai. Tetapi ketika ayat yang dibaca itu ada di akhir surat itu, ketika dia bangun, dia membungkuk sejenak atau lebih suka membaca sebuah ayat kecil dan kemudian melanjutkan dengan ruku’ dan seterusnya.

Baca Juga :

Demikian pembahasan yang telah kami sampaikan yakni mengenai Sujud Tilawah beserta keuntungannya. Semoga ulasan ini, dapat berguna bagi Anda semua.