Niat Tata Cara Memandikan Jenazah Lengkap dengan Gambarnya

3 min read

Tata Cara Memandikan Jenazah

Niat Tata Cara Memandikan Jenazah Lengkap dengan Gambarnya – Ketika terdapat seseorang yang meninggal dunia. Kita sebagai umat Muslim wajib untuk mengurus jenazah orang tersebut. Salah satu kewajiban kita yang masih hidup yaitu memandikan jenazah tersebut.

Allah SWT. tidak luput memperhatikan masalah jenazah tersebut. Kewajiban terhadap jenazah yaitu memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya. Lalu, bagaimana niat dan tata cara memandikan jenazah? Tahukah kamu?

Memandikan jenazah tidak hanya disiram siram saja. Ada niat dan tata caranya.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai niat dan tata cara memandikan jenazah beserta gambarnya. Simak terus artikel ini ya.

Memandikan Jenazah

Memandikan jenazah hukumnya yaitu fardhu kifayah. Tetapi jika telah ada yang melaksanakan dalam memandikan jenazah, maka kewajiban itu tidak perlu dilakukan lagi. Salah satu dari syarat mengurusi jenazah yaitu memandikan jenazah.

Niat Memandikan Jenazah

Adapun niat untuk memandikan jenazah baik itu laki – laki atau perempuan yaitu sebagai berikut:

Niat memandikan jenazah laki – laki

Berikut ini merupakan bacaan niat untuk memandikan jenazah laki – laki:

Bacaan arab niat memandikan jenazah laki – laki

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذَاالْمَيِّتِ ِللهِ تَعَالَى

Bacaan latin niat memandikan jenazah laki – laki

Nawaitul ghusla adaa an ‘an hadzal mayyiti lillaahi ta’aalaa.

Terjemahan arti niat memandikan jenazah laki – laki

“Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari jenazah (laki – laki) ini karena Allah Ta’ala.”

Niat memandikan jenazah perempuan

Berikut ini merupakan bacaan niat untuk memandikan jenazah perempuan:

Bacaan arab niat memandikan jenazah perempuan

نَوَيْتُ الْغُسْلَ اَدَاءً عَنْ هذِهِ الْمَيِّتَةِ ِللهِ تَعَالَى

Bacaan latin niat memandikan jenazah perempuan

Nawaitul ghusla adaa an ‘an hadzihil mayyitati lillaahi ta’aalaa.

Terejamahan arti niat memandikan jenazah perempuan

“Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari jenazah (perempuan) ini karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara memandikan Jenazah

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Hendaklah orang yang meninggal di antara kalian dimandikan oleh orang – orang yang terpercaya.” (HR. Ibnu Majah)

Berdasarkan hadits tersebut sebagai umat Muslim kita harus memandikan jenazah dengan orang – orang yang dipercaya. Maksudnya yaitu yang dapat tetap menjaga aib atau kelebihan dari jenazah tersebut dan tidak mengumbar – umbar kepada khalayak ramai.

Adapun tata cara dalam memandikan jenazah yaitu sebagai berikut:

a. Membaca niat terlebih dahulu sebelum memandikan jenazah.

b. Jenazah diletakkan dengan posisi kepala yang lebih tinggi dibandingkan dengan posisi tubuhnya.

c. Orang yang memandikan jenazah sebaiknya menggunakan sarung tangan.

d. Kain penutup yang digunakan jenazah diganti dengan kain basahan agar aurat jenazah tersebut tidak terlihat.

e. Bersihkan dengan menggosok lembut di bagian – bagian berikut ini: gigi, lubang hidung, lubang telinga, celah ketiak, celah jari tangan, dan kaki, serta rambut jenazah tersebut. Balut jari tangan dengan kain basah dan masukkan ke bagian mulut. Gosok giginya dan bersihkan hidungnya.

f. Kotoran jenazah baik yang keluar dari depan atau pun dari belakang dibersihkan terlebih dahulu, dengan menekan perut dengan tangan kanan secara perlahan – lahan agar kotoran yang ada masih ada di dalam dapat keluar semua dan tangan kirinya menopang tubuh jenazahnya.

g. Siram seluruh anggota tubuh jenazah dengan air sabun. Siram dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan air bersih. Saat menyiram lakukanlah dari sebelah kanan terlebih dahulu, barulah sebelah kiri masing – masing sebanyak tiga kali.

h. Basuh bagian lambung kanan sebelah belakang dengan memiringkan jenazah ke arah kiri. Kemudian basuh bagian lambung kiri sebelah belakang dengan memiringkan jenazah ke kanan.

i. Setelah itu kembali disiram dengan air bersih dari ujung kepala hingga ujung kaki.

j. Siram dengan air yang diberi wangi – wangian tetapi tidak terdapat kandungan al k0h0ol, biasanya menggunakan air kapur barus.

k. Yang terakhir yaitu mewudhukan jenazah. Cara wudhu jenazah sama halnya dengan orang yang berwudhu sebelum sholat.

Perlu diingat!

a. Untuk jenazah perempuan, apabila rambutnya diikat atau pun disanggul, maka lepas ikatan atau sanggulannya dan biarkan rambutnya terurai ke belakang. Kemudian bersihkan dan keringkan dengan handuk dan dikepang.

b. Jangan lupa mengeringkan tubuh jenazah agar tidak membasahi kain kafannya ketika dikafani dan pastikan benar – benar kering tubuh dan rambutnya ya.

c. Pastikan jenazah telah dalam keadaan bersih dan suci dari hadits sebelum dikafani. Jika tubuh jenazah tersebut terkena najis atau keluar kotoran atau najis, maka wajib untuk dimandikan kembali sebelum dikafani.

d. Disunnahkan untuk mandi setelah memandikan jenazah.

Hal ini tercantum dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya: “Barang siapa yang memandikan mayit, maka hendaklah dia mandi. Dan barang siapa yang memikul jenazah, maka hendaklah dia wudhu.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Tata cara memandikan jenazah terdapat dalam hadits berikut ini:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَغْسِلُ ابْنَتَهُ فَقَالَ

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُورًا، فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي. فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ، فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ فَقَالَ: أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ

Artinya: “Dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui kami ketika kami akan memandikan jenazah putri Beliau, lalu Beliau bersabda: “Mandikanlah dia tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu dengan air dan daun bidara dan jadikanlah yang terakhir dengan kapur barus (wewangian), dan apabila kalian telah selesai beritahukanlah kepadaku.” Maka ketika kami telah selesai, kami memberi tahu Beliau, lalu Beliau memberikan kepada kami kain Beliau. Lalu Beliau bersabda: “Jadikanlah ini sebagai kain pertama yang langsung menyentuh kulitnya”.” (HR. Bukhari)

Pada hadits lain juga dikatakan bahwa:

ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا

Artinya: “Dahulukan bagian – bagian yang kanan dan tempat – tempat wudhu.”

Dilanjutkan dengan hadits berikutnya:

فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ, فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا

Artinya: “Kemudian kami pintal rambutnya tiga pintalan dan kami letakkan di belakangnya.” (HR. Bukhari)

Baca Juga:

Demikianlah penjelasan mengenai niat dan tata cara memandikan jenazah lengkap dengan gambarnya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita. Terima kasih.